Di Mana Makam Ninik Mamak Kami?*

Pondok pesantren itu mulai tumbuh setelah penjajah meninggalkan tanah kami. Pada masa itu, Belanda pergi dengan Perjanjian Masang; dan Kaum Padri mencoba merangkul Kaum Adat dengan kesepakatan Sumpah Satie Bukit Marapalam: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Namun, perselisihan yang tejadi selama Perang Padri belum sepenuhnya padam. Dendam-dendam masih tertanam. Masalahnya, aku mewarisi gelar adat; dan pemimpin pondok enggan menerimaku menjadi santri karena catatan perselisihan di masa silam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Orang-orang di kampungku menamai pesantren itu sesuai dengan nama pemimpin pondok. Awalnya, sekolah agama itu disebut Pesantren Buya Mudik. Buya Mudik sering tersiar sebagai pendiri sekaligus pemimpin pondok.

Aku masih mengingatnya dengan jelas. Pagi itu menjadi hari ke-33 setelah pesantren berdiri dan ia berniat mengumumkan sebuah nama. Santri yang tak seberapa telah berkumpul. Orang-orang di kampungku pun ikut berbaris karena ingin menjadi saksi. Namun, ia belum sempat menyebutkan nama, ketika ia terbatuk lalu ambruk dari mimbar. Matanya menerawang, seperti memandang cewang di langit biru. Tak lama, mulutnya mengeluarkan busa dan perlahan-lahan, wajahnya menghitam dan salah seorang santri mengucapkan, “Innalillah ….”

Setelah kematian Buya Mudik, kami menyebut pesantren itu dengan nama Pesantren Buya Maek. Aku meyakini, Buya Maek tidak berniat mengumumkan nama baru untuk tempat suci di kampung kami. Ia tampak senang dengan penyebutan pesantren dengan namanya.

Namun, penyebutan itu pun hanya bertahan selama 33 hari. Buya Maek ditemukan tak bernyawa di dalam kamarnya. Mulutnya berbusa dan wajahnya seketika hitam. Sehitam rambutnya, sehitam kayu dipannya, sehitam wajah Buya Mudik saat kematiannya.

Kendati Buya Maek tampak senang dengan penyebutan nama pesantren dengan namanya, orang-orang di kampung kami kembali sepakat menyebut nama pesantren itu sesuai nama pemimpin barunya. Selama 33 hari, kami menyebutnya dengan nama Pesantren Buya Kubang; Pesantren Buya Ompang 33 hari setelahnya; dan Pesantren Buya Piobang 33 hari sebelum datangnya Buya Ardi—pemimpin pesantren yang bersedia menerimaku.

“Kabarnya, kau memiliki gelar adat,” Buya Ardi menatap mataku.

“Ya, gelarku Dt. Duko Nan Mulia.”

“Gadang bakarelaan [1] atau mangambang nan talipek? [2]”

“Mangambang nan talipek.”

“Kau masih sangat muda dan sudah menjadi pemimpin bagi kaummu.”

“Apa Buya juga menolakku menjadi santri?”

“Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Aku justru senang ada santri kami yang memiliki gelar adat.”

Bersama Karimi, aku menjadi santri baru di Pesantren Buya Ardi.

***

Kaum Padri ingin menerapkan Syariat Islam di Minangkabau, tapi Kaum Adat ingin mempertahankan adat dan kebiasaan yang telah diwarisi dari nenek moyang. Perselisihan tak dapat dihindari dan Kaum Padri mengalahkan kami pada perang yang pertama.

Kami berhasil membalaskan dendam setelah mendapat dukungan dari Belanda pada perang yang kedua. Namun, Mayor Jendral Cochius memiliki keinginan terpendam untuk memonopoli kebun-kebun kopi di tanah kami. Pada akhirnya, kami bersatu dan bertekad mengusir penjajah dari kampung kami dan terjadilah perang selama bertahun-tahun.

“Pada waktu itu, kami hanya meminta Kaum Adat untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan Syariat Islam,” ujar Buya Ardi.

“Tapi banyak ninik mamak yang mati dan tak tahu di mana makamnya hingga kini.”

Buya bermenung.

“Di mana makam ninik mamak kami?”

Obrolan terhenti.

***

Pada masa silam, ada sekelompok orang meninggalkan Luhak Agam. Mereka menuruni lembah, lantas berjalan lurus lalu berbelok untuk menghindari pohon-pohon di dalam hutan. Awalnya jalan setapak. Tak lama, jalan itu melebar agar bisa dilalui pedati dan kerbau-kerbau pengangkut beban. Terus diperlebar sesuai bentuk semula sehingga jalan-jalan di kampung kami berliku-liku seperti ular. Satu-satunya jalan lurus di kampung kami hanyalah jalan di depan pesantren.

Tinggalkan Balasan