Dulu, idenya muncul begitu saja. Kini, ide itu berkembang menjadi model yang tak biasa: duniasantri menjadi mesin kaderisasi penulis dari kalangan santri di Indonesia. Menjadi oase di tengah gurun dunia digital.
***

Suatu hari beberapa tahun lalu, seorang santriwati dari Sumatera berkabar. Ia sedang menangis. Bukan lantaran sedih atau sakit hati diselingkuhi pacar. Ia menangis karena haru. Ia menangis sebab bahagia.
“Ternyata saya bisa menulis, Kak. Terima kasih tulisan saya telah dimuat,” katanya sambil mengguguk. Saat itu tulisan pertamanya baru dimuat di laman www.duniasantri.co, setelah tiga kali bolik-balik disetor, diberi catatan, direvisi, disetor lagi.
Itulah bagian kecil dari salah satu proses kepenulisan di duniasantri. Ia bukan menerima dan menerbitkan karya dari penulis-penulis yang sudah jadi, atau penulis-penulis yang sohor atau pengarang besar. Ia merayu, membujuk, “meracuni” orang-orang untuk menulis, untuk menjadi penulis, sampai karya mereka “jadi tulisan”.
Rupanya, proses itu juga terbaca ketika teknologi Large Language Model (LLM) dari ChatGPT melakukan analisis terhadap korpus 5.000 tulisan santri yang dirilis di web duniasantri.co, termasuk dan terutama untuk korpus yang ada pada rubrik Opini, Puisi, dan Cerpen. Ia menyebut pola kepenulisan di duniasantri sebagai long tail, berekor panjang. Artinya, satu penulis bisa berkarya dalam waktu panjang di situs ini. Selain itu, duniasantri juga disebut sebagai mesin kaderisasi penulis. Artinya, banyak bermunculan penulis baru dari situs ini.
Data apa yang dibaca ChatGPT sehingga bisa membuat kesimpulan seperti itu? Mari kita coba untuk mengulik datanya.
Afiliasi Penulis
Pada 26 Mei 2026, ketika duniasantri.co merilis naskah ke-5.000, jumlah akun penulisnya mencapai 3.736 dan jumlah naskah yang disubmit 9.530. Pada saat yang sama, jumlah tulisan untuk rubrik Opini, Cerpen, dan Puisi sebanyak 3.196 yang ditulis oleh 603 penulis. Data dari para penulis di tiga rubrik itulah yang kemudian dianalisis.

Berdasarkan tabel, mayoritas penulis meninggalkan jejak institusional yang cukup jelas pada by line. Sekitar 43,4% penulis secara eksplisit menandai diri dengan afiliasi pesantren, 27,0% dengan afiliasi kampus, dan 10,3% memadukan keduanya. Ini memperlihatkan pertemuan kultur pesantren dan pendidikan tinggi, bukan sekadar opini individual tanpa jejak institusional.

Meskipun tiga rubrik ini ditulis oleh 603 penulis, tetapi struktur produktivitasnya tergolong timpang. Median tenure penulis hanya sekitar 1 hari karena banyak kontributor hanya muncul sekali atau dua kali. Namun, pada saat yang sama terdapat inti penulis yang sangat aktif: 119 penulis aktif minimal satu tahun, 62 penulis minimal dua tahun, dan 39 penulis minimal tiga tahun. Inilah yang di awal tulisan ini disebut long tail, dan sekaligus ada inti kader penulis yang relatif stabil.
Pola itu cocok dengan identitas resmi duniasantri.co sebagai media citizen journalism yang ditulis oleh santri, alumni pesantren, dan pegiat dunia pesantren. Sekaligus, mengindikasikan ekosistem penulis dunisantri memang lebar, tetapi tidak sepenuhnya datar; tetap ada lapisan inti yang menggerakkan ritme wacana.
Klaster dan Pergeran Topik
Berdasarkan data yang terbaca, teknologi LLM ChatGPT mengelompokkan para penulis duniasantri ke dalam tiga klaster, yaitu analitis-publik, liris-hibrida, dan fiksional-domestik.

Klaster tersebut memberi gambaran jelas. Ada penulis yang memang memosisikan diri sebagai kolumnis-opinionis, ada yang menjadi penjaga iklim puisi, dan ada yang memperkaya dunisantri lewat sastra prosais. Yang menarik, satu klaster tidak selalu sepenuhnya tunggal; klaster liris tetap bersentuhan dengan opini publik, sehingga menandakan bahwa di dunisantri, puisi dan perenungan sosial tidak benar-benar terpisah.
Analisis ini juga menemukan adanya pergeseran topik yang terjadi pada penulis-penulis long tail. Misalnya, pada penulis yang memiliki minimal 8 tulisan dan membentang setidaknya dua tahun, sekitar 32,1% menunjukkan perubahan tema dominan antara fase awal dan fase akhir kepenulisan. Itu berarti sekitar dua pertiga relatif stabil, sementara sepertiga lainnya bereksperimen atau berevolusi secara intelektual sebagai penulis. Selalu mencoba-coba genre baru atau tema anyar.

Temuan ini memperlihatkan bahwa dunisantri bukan hanya memiliki penulis yang “ahli” di satu bidang atau genre; platform ini juga memberi ruang bagi penulis untuk berpindah dari normatif ke publik, dari puisi ke opini, atau dari opini ke cerpen, dan sebaliknya. Hal tersebut merupakan sinyal baik untuk kaderisasi pemikiran santri.

Selain itu, sebanyak 106 penulis terlacak menulis di lebih dari satu rubrik. Jadi, batas antara “esais”, “penyair”, dan “cerpenis” di duniasantri bersifat poros, bukan pagar. Mukhlisin Ashar, misalnya, dominan di Opini, tetapi juga menulis Puisi dan Cerpen; Rusdi El Umar dominan di Opini, namun juga produktif di Puisi; Bisri Mustofa kuat di Cerpen. Secara sosiologis, ini memperlihatkan bahwa dunia intelektual santri di sini bergerak dalam mode poligenre. Tidak tunggal.
Tren ini menegaskan satu hal, melalui duniasantri.co, santri tampil sebagai produsen wacana publik dalam berbagai bentuk dan tema tulisan, bukan hanya penjaga tradisi internal. Bukti paling kuat bukan sekadar jumlah artikel, tetapi arsitektur sosial produksi konten: ribuan akun penulis, mayoritas santri/alumni, serta volume naskah masuk yang jauh lebih besar daripada yang dirilis.
Hal tersebut menunjukkan dunisantri bekerja bukan hanya sebagai penerbit, tetapi juga sebagai mesin kaderisasi penulis. Dalam ekosistem media Islam Indonesia, hal ini menjadi faktor diferensiasi yang sangat kuat. Banyak media punya rubrik opini, atau cerpen, atau puisi, namun sangat sedikit yang benar-benar membangun infrastruktur penulis komunitas seperti yang terjadi pada duniasantri. Media pada umumnya hanya menerina dan menerbitkan tulisan yang sudah jadi.
Implikasi strategis ke depan cukup jelas. Jika dunisantri ingin menumbuhkan “santri thought” secara konsisten, maka yang perlu dipertahankan bukan hanya volume tulisan, tetapi arsitektur lintasan berpikir: menjaga puisi sebagai identitas afektif, memperdalam opini politik-kebangsaan sebagai medan intervensi publik, menguatkan literasi-menulis sebagai fondasi intelektual, dan sekaligus merawat cerpen sebagai laboratorium pengalaman sosial santri.
Di Balik Data
Itulah simpulan analisis LLM ChatGPT. Namun, apa yang terjadi di balik data? Mesin pintar itu belum bisa membacanya, termasuk mendengarkan tangis santriwati asal Sumatera yang mengawali tulisan ini.
Benar, pada 26 Mei 2026, duniasantri merilis naskah ke-5.000. Jumlah yang disubmit seluruhnya 9.530 naskah. Ke-5.000 naskah tersebut tulis oleh 751 penulis dari 3.736 akun penulis. Artinya, tercatat ada 2.985 akun penulis yang tulisannya belum pernah dirilis. Ada dua kemungkinan. Pertama, ada yang memang belum pernah submit naskah. Kedua, naskah yang disubmit termasuk bagian dari 4.471 yang tidak dirilis. Bagian ini masih luput dari keterbacaan LLM ChatGPT.
Dari mana para penulis di duniasantri.co itu datang, atau berasal? Hal itu juga luput dari keterbacaan. Yang bisa dibaca dengan teknologi LLM ChatGPT hanya yang tertera pada by line akun penulis yang tulisannya sudah dirilis.
Sesungguhnya, para penulis di duniasantri.co itu datang dari beberapa sumber. Pertama, tentu, dari workshop-workshop penulisan di berbagai daerah yang digelar jejaring duniasantri (JDS) sejak 2019, baik yang offline maupun online. Kedua, mereka yang datang dari berbagai pesantren, atau alumni pesantren, yang menjadikan duniasantri.co sebagai media untuk berkreasi. Ketiga, mereka yang datang dari kampus-kampus, kebanyakan dari perguruan tinggi Islam, sebagian untuk memenuhi tugas perkuliahan. Keempat, dari lomba-lomba penulisan yang diselenggarakan duniasantri. Kelima, dari masyarakat umum yang memiliki perhatian pada dunia pesantren atau para pegiat literasi.
Meskipun seluruh data itu belum terbaca, namun kesimpulan dari hasil analisis LLM ChatGPT cukup kuat: bahwa situs ini telah menjadi mesin kaderisasi penulis. Datanya menunjukkan, dari tahun ke tahun, jumlah akun penulisnya terus bertambah signifikan. Setiap saat selalu muncul akun penulis baru di situs ini. Di situ, positiong duniasantri.co dinilai sangat kuat karena keunikannya: para penulis yang terus bermunculan merupakan bagian dari jejaringnya. Mereka bukan penulis lepas seperti lazimnya pada media lain. Memang begitulah hakikat dari citizen journalism, yang ide awalnya muncul begitu saja.
