Di era di mana dunia semakin mendigital, Nahdlatul Ulama (NU) melihat peluang besar sekaligus tantangan dalam gelombang transformasi ini.
Teknologi digital seperti kecerdasan buatan, media sosial, dan platform e-commerce telah mengubah cara manusia berinteraksi, beribadah, dan berbisnis. NU, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, tidak lagi hanya bertumpu pada tradisi kultural, melainkan merawang masa depan dengan mengadopsi digitalisasi untuk memperluas dakwah.

Pada 2023 silam, NU melaksanakan Muktamar Pemikiran yang untuk membahas hal ini secara khusus. Waktu yang sangat terbatas membuat pembahasan belum mencapai titik klimas, sehingga harus ada tidak lanjut pasca muktamar. Buku ini merupakan tidak lanjut dari muktamar pemikiran NU 2023 yang terus menjadi wacana dan perhatian para pemikir dan ulama NU.
Buku Imajinasi The Future Society merupakan karya kolaboratif yang diterbitkan oleh Unusia Press sebagai bagian dari ikhtiar intelektual Nahdlatul Ulama dalam merespons tantangan peradaban di abad ke-21. Buku ini lahir dari refleksi mendalam atas Muktamar Pemikiran Nahdlatul Ulama tahun 2023, yang menghimpun gagasan dari para aktivis dan intelektual NU sesuai bidang keahlian masing-masing.
Ekosistem digital yang inklusif dan beretika, di mana nilai-nilai Islam moderat menjadi panduan utama menghadapi isu seperti misinformasi, privasi data, dan kesenjangan digital. Tantangan bagi NU dan jamaahnya menjadi lebih komplek dengan ekosistem baru ini yang jauh dari ketradisionalan. NU diharapkan siap memimpin umat untuk bearadaptasi pada dunia digital yang baru. Masa depan bukan ancaman, melainkan ladang subur dakwah NU mengukuhkan peran sebagai penjaga harmoni di tengah disrupsi teknologi global, memastikan bahwa kemajuan digital selaras dengan kemanusiaan yang beradab.
Secara lebih mendalam, Imajinasi The Future Society merupakan pandangan para aktivis Nahdliyin hadir sebagai bentuk “kegelisahan intelektual” yang terstruktur dari para pegiat NU dalam menghadapi ketidakpastian zaman.
Buku ini menonjol karena kemampuannya memadukan teologi tradisional dengan realitas teknologi masa depan, sehingga tidak terjebak dalam sikap anti-teknologi maupun penerimaan buta terhadap modernitas.
Para penulis menekankan pentingnya penguasaan literasi digital bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga kedaulatan umat di tengah dunia yang semakin transparan dan terkoneksi.
Nilai penting buku ini terletak pada upayanya membumikan diskursus masa depan ke dalam konteks keseharian warga Nahdliyin. Dengan menyertakan beragam perspektif, mulai dari isu sosial, kebijakan, hingga kemanusiaan.
Buku ini berfungsi sebagai panduan praktis sekaligus teoretis bagi santri dan aktivis untuk berperan aktif dalam ruang publik digital. Imanjinasi The Future Society bukan sekadar catatan optimisme, melainkan sebuah seruan untuk membangun “ekosistem masa depan” yang tetap berakar pada nilai-nilai moderasi, toleransi, dan keadilan yang selama ini menjadi napas perjuangan Nahdlatul Ulama.
Terkait prinsip keagamaan, buku ini secara tegas memposisikan Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai kerangka etis utama dalam menimbang setiap inovasi digital. Para penulis menekankan bahwa prinsip moderasi (tawassuth), keseimbangan (tawazun), toleransi (tasamuh), dan keadilan (i’tidal) yang merupakan kompas yang mutlak diperlukan agar masyarakat tidak kehilangan orientasi di tengah arus informasi yang tak terbendung.
Prinsip-prinsip tersebut ditransformasikan menjadi panduan perilaku (code of conduct) bagi warga Nahdliyin dalam berinteraksi di ruang digital, memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap membawa kemaslahatan (maslahah) dan bukan justru menebar fitnah atau perpecahan.
Buku ini mengajarkan bahwa dalam menghadapi fenomena digital seperti AI atau big data, warga Nahdliyin didorong untuk menggunakan metode ijtihad kontemporer yang tetap berpijak pada metodologi manhaj fikr para pendiri NU. Hal ini mencerminkan sikap adaptif-kritis, di mana nilai agama dijadikan filter untuk menyaring dampak buruk teknologi, sekaligus sebagai energi untuk mengadopsi manfaatnya demi kemajuan peradaban.
Dengan demikian, prinsip keagamaan NU tidak dihadirkan sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai fondasi yang menjaga agar perkembangan dunia digital tetap berlandaskan pada martabat kemanusiaan dan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab
Inti dari pembahasan buku ini, bagaimana NU menavigasi transformasi dunia menuju era digital yang penuh dengan disrupsi, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), robot humanoid, Internet of Things (IoT), hingga fenomena kebenaran-buatan (post-truth).
Berpijak pada basis peradaban Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja), NU menegaskan bahwa transformasi digital ini pada dasarnya membutuhkan fondasi modal sosial dan moral kebudayaan yang kuat, layaknya transformasi sejarah besar lainnya di masa lalu. Buku ini tidak sekadar membayangkan masa depan, melainkan menawarkan pandangan sistematis agar nilai-nilai keislaman moderat dapat menjadi panduan utama di tengah hiruk-pikuk perubahan global menuju dunia digital.
Data Buku
Judul : Imajinasi The Future Society
Penulis : Ahmad Suaedy, dkk
Penerbit : UNUSIA Press, Jakarta
Cetakan : 2026
Tebal : xii + 258 halaman
