Dari Ruang Audiensi, Sebuah Pesan untuk Seniman

Senin sore, 31 Agustus 2026, Taufiq Ismail, Ati Ismail, Niniek L. Karim, Jose Rizal Manua, Huri Yani, dan Nissa Rengganis datang ke Gedung E Kementerian Kebudayaan RI. Mereka mewakili Gerakan Peduli Seniman (GP) untuk beraudiensi dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Direktur Jenderal PPPK  Ahmad Mahendra.

Pertemuan berlangsung dalam suasana yang hangat. Di antara pembicaraan tentang  kebudayaan, perhatian mereka tertuju pada sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana seniman dapat terus berkarya sekaligus menjalani kehidupan yang layak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gerakan Peduli Seniman (GPS) hadir melalui Ati Ismail, Niniek L. Karim, Jose Rizal Manua, Huri Yani, dan Nissa Rengganis. Nama-nama besar dalam dunia seni dan kebudayaan, termasuk Taufiq Ismail, menjadi bagian dari semangat yang dibawa dalam pertemuan tersebut: bahwa seniman perlu diperhatikan, didukung, dan dijaga agar tetap dapat berkarya.

Audiensi itu bukan sekadar pertemuan formal. Ada perjalanan panjang yang dibawa GPS ke dalam ruangan tersebut—perjalanan lebih dari tiga tahun sejak gerakan ini dimulai pada Maret 2023. Selama kurun itu, GPS telah membantu hampir 50 seniman yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Di balik angka tersebut terdapat kisah-kisah kehidupan: seniman yang menghadapi kesulitan, tetapi tetap berusaha menjaga nyala kreativitasnya. Bagi GPS, penghargaan kepada seniman tidak cukup diberikan ketika karya mereka tampil di panggung atau mendapat tepuk tangan. Kepedulian justru menjadi lebih berarti ketika hadir pada saat seorang seniman membutuhkan dukungan.

Perjalanan GPS selama lebih dari tiga tahun menjadi bukti bahwa solidaritas antarseniman dapat tumbuh menjadi gerakan nyata. Gerakan yang tidak sekadar berbicara tentang seni, tetapi juga tentang martabat dan keberlangsungan hidup para penciptanya.

Karena itu, GPS menegaskan tekad untuk terus bergerak. Membantu seniman agar tetap memiliki ruang untuk berkarya, tetap produktif, dan pada saat yang sama dapat menjalani kehidupan yang lebih sejahtera.

Sebab, seperti yang terus diperjuangkan oleh para seniman dari generasi ke generasi —termasuk Taufiq Ismail— karya tidak pernah lahir dari ruang yang sepenuhnya terpisah dari kehidupan. Merawat seniman berarti merawat kehidupan kebudayaan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan