Di tengah derasnya arus media sosial, diskusi agama hari ini sering terasa seperti arena pertarungan, bukan ruang pencarian kebenaran. Orang lebih cepat marah daripada mendengar, lebih sibuk menghakimi daripada memahami. Satu potongan ayat dilempar tanpa konteks, satu cuplikan ceramah dijadikan senjata, lalu perdebatan berubah menjadi ajang menentukan siapa paling “Islam” dan siapa paling layak disalahkan. Padahal, kalau menengok sejarahnya, Islam tidak lahir dari tradisi bungkam dan kepatuhan buta. Islam tumbuh dari budaya membaca, bertanya, dan berdialog.
Wahyu pertama bahkan tidak turun dalam bentuk ancaman, melainkan perintah untuk membaca, iqra. Dalam banyak tafsir klasik seperti karya Ibnu Katsir maupun pemikiran modern Fazlur Rahman, ayat itu dipahami bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca realitas, sejarah, dan kehidupan manusia. Karena itu, tradisi intelektual Islam pada masa awal melahirkan perdebatan besar yang sehat: antara fikih dan filsafat, antara teologi dan rasionalitas, antara wahyu dan pengalaman sosial.

Nama-nama seperti Al-Ghazali, Ibnu Rushd, hingga Al-Farabi menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dulu dianggap bagian dari tradisi ilmu, bukan ancaman bagi iman.
Sayangnya, dalam banyak ruang publik hari ini, agama justru sering dipersempit menjadi identitas emosional. Kebenaran terasa selesai sebelum diskusi dimulai. Padahal, sebagaimana dijelaskan oleh Mohammed Arkoun dalam kritiknya terhadap “nalar Islam tertutup”, kemunduran umat sering dimulai ketika agama berhenti memberi ruang pada pertanyaan kritis. Akibatnya, umat mudah curiga terhadap pemikiran, bahkan menganggap perbedaan sebagai bentuk penyimpangan. Di titik inilah agama kehilangan salah satu ruh terpentingnya: dialog.
Ironisnya, umat yang diwarisi tradisi iqra justru kadang paling takut pada perbedaan cara berpikir. Seolah-olah nalar adalah ancaman bagi iman. Padahal, dalam banyak ayat Al-Qur’an, manusia berkali-kali diajak untuk “yatafakkarun” (berpikir), “ya‘qilun” (menggunakan akal), dan “yatadabbarun” (merenungkan). Pertanyaannya kemudian sederhana tetapi mengganggu: mengapa umat yang mewarisi tradisi membaca justru sering alergi terhadap perbedaan nalar?
