Di tengah arus popularitas media sosial yang kerap melahirkan tokoh-tokoh instan, nama Ibnu Hardjo al-Jawi, atau yang akrab disapa Mbah Rian, justru dikenal melalui jalan yang berbeda. Ia memilih bekerja dalam senyap, jauh dari sorotan publik, namun meninggalkan jejak keilmuan yang mendalam. Sosok seperti ini sudah langka di dunia yang serba digital ini.
Sosok sederhana asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ini menjadi perbincangan setelah menerima MUI Award 2026 pada kategori Karya Tulis Islam dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasinya dalam mengembangkan khazanah keilmuan Islam melalui penelitian, penyuntingan naskah klasik, dan penulisan ilmiah. Sebagimana diberitakan di laman mui.or.id dengan judul “Jadi Indikator Utama, Berikut 27 Penerima Apresiasi Hukum dari MUI.”

Tukang Bangunan Menjadi Peneliti Manuskrip
Di balik capaian akademiknya, kehidupan Mbah Rian jauh dari kesan mewah. Sehari-hari, masyarakat mengenalnya sebagai pekerja bangunan. Kesederhanaan itu tidak menghalanginya untuk terus menekuni dunia ilmu. Suatu nilai profesi yang jarang dilakukan oleh banyak akademisi.
Menurut keterangan MUI, selama bertahun-tahun ia menjalani aktivitas ilmiah secara mandiri. Waktunya dihabiskan untuk meneliti manuskrip kuno, menyunting naskah, serta menulis karya-karya akademik yang menjadi rujukan dalam kajian Islam klasik.
Pilihan hidup tersebut menjadikannya contoh bahwa dedikasi terhadap ilmu tidak selalu lahir dari lingkungan akademik formal, melainkan dari ketekunan, kecintaan, dan kesabaran dalam menempuh proses panjang. Artinya, untuk menjadi pecinta ilmu, peneliti, dan penulis tidak harus melulu terkesan akademik dan mewah.
Menyelami Manuskrip Warisan Ulama Nusantara
Nama Mbah Rian dikenal di kalangan peneliti manuskrip Islam karena konsistensinya menghidupkan kembali karya-karya ulama terdahulu. Kesederhanaan hidup tidak menyebabkan batasan yang tidak bisa ditembus. Bahkan dengan kehidupan yang sedemikian, Mbah Rian membuktikan kepada khalayak sebagai peneliti yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Mbah Rian tercatat telah melakukan penyuntingan kritis lebih dari 100 manuskrip kuno dan menghasilkan sedikitnya lima kitab tahqiq. Salah satu karya pentingnya adalah tahqiq terhadap Kitab Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari. Selain itu, ia juga menyunting karya monumental Tahrir karya Syekhul Islam Zakariya al-Anshari. Dan masih banyak lagi kajian dan catatan Mbah Rian terhadap naskah kitab klasik lainnya.
Bidang kajiannya meliputi fikih, hadis, ushul fikih, bahasa Arab, hingga tasawuf. Karya-karyanya menjadi referensi bagi kalangan akademisi, peneliti, dan ulama di berbagai negara.
Di dunia akademik Islam, Mbah Rian menggunakan nama pena Ibnu Hardjo al-Jawi. Penyematan “al-Jawi” mencerminkan identitas intelektual ulama Nusantara dalam tradisi keilmuan Islam klasik, sekaligus menjadi simbol keterikatannya dengan khazanah keilmuan Islam di wilayah Melayu-Nusantara.
Pilihan tersebut sekaligus menunjukkan komitmennya untuk melanjutkan mata rantai tradisi ulama Nusantara yang selama berabad-abad memberi kontribusi besar terhadap perkembangan ilmu-ilmu keislaman.
Rendah Hati di Tengah Penghargaan
Meski menerima penghargaan bergengsi dari MUI, Mbah Rian tidak menghadiri prosesi penyerahan penghargaan di Jakarta.
Ia memilih tetap berada di kampung halamannya dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Sikap tersebut dinilai banyak pihak sebagai cerminan kerendahan hati seorang pencari ilmu yang tidak menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama.
Baginya, ilmu adalah amanah yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui penelitian dan publikasi naskah.
Di tengah era digital yang sering mengukur keberhasilan dari jumlah pengikut dan viralitas, perjalanan hidup Ibnu Hardjo al-Jawi menghadirkan pesan yang berbeda.
Ia membuktikan bahwa pengabdian kepada ilmu dapat dilakukan tanpa gemerlap panggung. Ketekunan dalam meneliti manuskrip, menyunting warisan intelektual ulama, serta menjaga otoritas keilmuan merupakan bentuk kontribusi nyata bagi peradaban Islam.
Penghargaan MUI Award 2026 menjadi pengakuan atas perjalanan panjang tersebut. Sekaligus mengingatkan bahwa di balik kesunyian masih ada para penjaga khazanah ilmu yang bekerja tanpa banyak bicara, tetapi memberi manfaat besar bagi umat. Diharapkan ke depan akan lahir Mbah Rian-Mbah Rian lainnya sehingga khazanah kitab-kitab klasik tetap lestari dan terjaga sepanjang waktu dan zaman. Wallahu A’lam!
