Pesantren Tebuireng melalui Majalah Tebuireng menggelar 2nd International Magazine Review bertajuk “Ecological Repentance: Religious Efforts to End Disasters.”
Secara luring, acara digelar di Aula SMA Abdul Wahid Hasyim, Sabtu (9/5/2026). Secara dari via zoom meeting. Kegiatan ini mengangkat isu krisis ekologi global dan pentingnya kesadaran lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.

Forum yang diikuti siswa anggota organisasi pecinta alam Hipampala itu menghadirkan dua narasumber, yakni Konsultan Pembangunan di Jepang, Arvin Patria Mudranta Putra dan Wakil Administratur Kepala Sub Kesatuan Pemangkuan Hutan Lumajang, Soegiharto Aries Soebagiyo.
Dalam pemaparannya, Arvin menilai persoalan ekologi telah menjadi isu global yang berkaitan erat dengan geopolitik, ekonomi, hingga ancaman cuaca ekstrem. Menurutnya, kerusakan lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan yang harus dihadapi sejak sekarang.
“Dua tahun ke depan pembicaraan dunia masih akan berkutat pada geopolitik ekologi, ekonomi, dan cuaca ekstrem,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran ekologis sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda. Pengalaman selama bekerja di Jepang, kata Arvin, menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan dan disiplin lingkungan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Arvin menjelaskan, para pekerja magang asal Indonesia di Jepang umumnya terlebih dahulu dibekali pemahaman mitigasi bencana sebelum bekerja. Hal itu dilakukan karena Jepang merupakan negara yang memiliki risiko tinggi terhadap gempa bumi dan bencana alam lainnya.
Selain pendidikan kebencanaan, ia juga menyoroti budaya disiplin masyarakat Jepang dalam mengelola sampah dan menjaga lingkungan. Menurutnya, masyarakat di sana diwajibkan memilah sampah secara rinci, mengikuti jadwal pembuangan tertentu, hingga membayar biaya pembuangan sampah.
“Tempat sampah justru ditiadakan agar masyarakat bertanggung jawab terhadap sampahnya sendiri,” katanya.
Arvin juga menyinggung tragedi pencemaran Minamata di Jepang sebagai pelajaran penting tentang dampak kerusakan lingkungan akibat limbah industri. Ia menilai, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran menjaga kelestarian alam dan pengendalian emisi karbon.
Menurutnya, konsep “tobat ekologis” tidak hanya berkaitan dengan menjaga lingkungan, tetapi juga perubahan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi sampah, merawat barang agar tahan lama, serta menghemat energi.
Sementara itu, Aries mengajak peserta untuk membangun kepedulian lingkungan sejak dini. Ia mengisahkan ketertarikannya pada dunia alam yang tumbuh sejak menjadi pecinta alam semasa sekolah dan mahasiswa.
“Dari situ muncul kecintaan saya terhadap ciptaan Allah,” ujarnya.
Aries menjelaskan bahwa pengelolaan hutan di Indonesia memiliki aturan ketat untuk menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk perlindungan kawasan sumber mata air dan pembatasan penebangan pohon.
Menurutnya, kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini banyak dipicu oleh perilaku manusia yang tidak menjaga keseimbangan alam. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam pelestarian lingkungan, salah satunya melalui gerakan menanam pohon dan menjaga sumber mata air.
“Kalau lingkungan sudah tercemar, terutama air, kita tidak tahu bagaimana hidup kita ke depan,” katanya.
Dalam forum tersebut, Aries juga mendorong para pendidik dan tokoh agama untuk terus menyuarakan isu lingkungan melalui berbagai ruang pendidikan dan dakwah. Ia berharap kesadaran menjaga alam dapat menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Pada kesempatan itu, Kepala SMA Abdul Wahid Hasyim, Djoko Suwono, mengajak para siswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. “Jadilah pelopor perjuangan, pejuang lingkungan dari Pesantren Tebuireng,” pesannya.
