Banyak ironi yang dialami santri hari ini.
Semuanya serba ada. Gawai di genggaman menyajikan ribuan halaman kitab kuning dalam sekian milidetik, sementara algoritma kecerdasan buatan (AI) siap membedah rumitnya ibarat fikih kapan saja. Beranda YouTube berjejal jutaan jam ceramah. Jurnal ilmiah tumpah ruah. Akses ilmu, yang dulu menjadi privilese berdarah-darah kaum elite, kini jatuh bebas ke pangkuan siapa saja.

Selesai? Belum tentu.
Di balik kemudahan yang melenakan ini, sebuah tanya menggugat kesadaran kita: Mengapa kelimpahan informasi justru membunuh rasa lapar kognitif kita?
Fasilitas melimpah ruah, namun semangat tafaqquh fiddin justru kerempeng. Kita begitu mudah merasa paripurna hanya dengan membaca utas singkat, cepat terdistraksi, dan perlahan kehilangan urat juang dalam mendalami ilmu.
Akar masalahnya barangkali bukan pada infrastruktur digital, melainkan pada filosofi kita memandang ilmu itu sendiri. Untuk mengurai benang kusut ini, mari menengok ke belakang.
Jauh sebelum era Society 5.0 merangsek, ada seorang pangeran yang memunggungi kemewahan istana demi memeluk jalan sunyi para ulama. Namanya abadi: Pangeran Diponegoro.
Pendidikan di Tegalrejo
Publik mengenalnya sebagai panglima perang yang menggetarkan jantung kolonial. Namun, sejarah kerap alpa. Jauh sebelum pedang dihunus, Diponegoro adalah seorang pencari ilmu yang dahaganya tak pernah tuntas. Masa mudanya tidak dihabiskan untuk bersolek di gemerlap keraton, melainkan di Tegalrejo. Di bawah asuhan Ratu Ageng Tegalrejo, sang pangeran muda menyemai benih asketisme, disiplin baja, dan kecintaan buta pada agama.
Ia tak sekadar menyedot ilmu teks. Al-Qur’an, hadis, fikih, dan tasawuf direngkuhnya bersamaan dengan penyerapan adab dari lisan serta laku para kiai. Zaman itu, menuntut ilmu adalah laku tirakat. Tidak ada tautan PDF. Tidak ada mesin pencari. Pengetahuan ditukar dengan peluh perjalanan, lutut yang pegal di majelis pengajian, dan kesabaran tanpa batas.
Pilihannya jelas. Bagi Diponegoro, kemuliaan tidak dikarbit oleh darah biru. Ilmu adalah prasyarat mutlak, bekal fundamental sebelum seseorang berani memikul amanah sejarah yang lebih besar.
Dalam tradisi pesantren, ilmu yang nir-adab adalah bualan kosong. Keberkahan ilmu tidak lahir dari tumpukan kitab yang dikhatamkan, melainkan dari takzim seorang murid kepada murabbinya.
Kesederhanaan yang dipraktikkan Diponegoro di Tegalrejo memahat karakternya, mencegahnya menjadi budak kenyamanan. Perang Jawa yang legendaris itu, pada hakikatnya, hanyalah etalase. Buah dari proses panjang yang tersembunyi di bilik-bilik pesantren. Perjuangan adalah hasil; ilmu dan tirakat adalah akar yang menghidupinya.
Paradoks Kelimpahan Digital
Relevansi Sang Pangeran justru mencuat hari ini. Di masa lalu, jalan menuju ilmu itu terjal dan berliku. Kini? Layar sentuh mengubah segalanya. Jarak ribuan kilometer dipangkas seketika. Teknologi menghadirkan semesta belajar tanpa batas.
Tapi awas, ini jebakan.
Kita merayakan kecepatan, lalu mengorbankan kedalaman. Membaca ringkasan terasa cukup. Potongan ceramah satu menit dianggap fatwa utuh. Kita menumpuk data, bukan membangun kebijaksanaan. Akibatnya, keluasan akses menipu kita dengan ilusi kepintaran, tanpa pernah menyentuh kedalaman pemahaman.
Di titik ini, setiap santri harus berdiri di depan cermin dan bertanya: Mengapa akses yang kian tak terbatas justru melahirkan keengganan berproses? Apakah fasilitas yang kurang, atau hati kita yang kehilangan kesungguhan?
Pangeran Diponegoro menampar kesadaran kita: kemudahan bukanlah bidan yang melahirkan pembelajar sejati. Syarat utamanya adalah kerendahan hati. Kesediaan untuk terus merasa ‘bodoh’ agar terus belajar. Teknologi hanyalah wasilah. Jika adab dan ketekunan luntur, teknologi hanya akan mengubah ilmu menjadi sampah informasi digital yang singgah sejenak di memori jangka pendek.
Warisan Sang Pangeran
Santri Society 5.0 harus insaf. Pertama, berhentilah merasa puas. Ringkasan AI atau video pendek itu baru teras rumah, bukan isi bangunan. Ilmu butuh dikunyah, diulang, didiskusikan, dan dihidupkan dalam laku keseharian.
Kedua, ruh seorang guru tak tergantikan. AI bisa menjawab “apa” dan “bagaimana”, tetapi ia bisu ketika ditanya soal “makna” dan “keberkahan”. Guru menanamkan adab. Meluruskan niat yang bengkok. Sorot mata dan doa seorang kiai tidak akan pernah bisa direplikasi oleh barisan kode pemrograman secanggih apa pun.
Kelimpahan ini semestinya menjadi cambuk, bukan peninabobo. Gawai dan kecerdasan buatan harus dieksploitasi untuk memperluas cakrawala, mendekatkan diri pada kebenaran, dan bermuara pada pengabdian kepada Allah Swt.
Pada akhirnya, warisan terbesar Pangeran Diponegoro bukanlah sebilah keris pusaka atau romantisme heroisme semata. Ia mewariskan napas panjang seorang penuntut ilmu. Keberanian menempuh proses. Keteguhan menjaga adab di tengah pusaran zaman.
Medan juang santri hari ini berbeda. Musuh kita bukan lagi meriam kompeni, melainkan algoritma yang mendistraksi, godaan jalan pintas, dan ego keminter yang merasa cepat tahu. Kemenangan sejati harus diraih di medan perang paling sunyi: menundukkan rasa malas dan ego sendiri.
Jika Diponegoro mampu merawat nyala api belajar di tengah keterbatasan, alangkah memalukannya jika santri yang dimanjakan zaman justru memilih memadamkannya. Sebab, pemimpin besar tidak pernah lahir dari rahim zaman yang serba mudah; mereka lahir dari hati yang selalu lapar akan ilmu dan kokoh menjaga adab.
