Salah satu yang disebut dalam narasi tersebut adalah Balong Keramat Mbah Yai Noer. Tempat itu menjadi salah satu sumber mata air yang memiliki nilai budaya bagi masyarakat di wilayah Panti.
“Budaya di lereng Gunung Argopuro adalah budaya tilik sumber, terutama balong keramat. Salah satunya Balong Keramat Mbah Yai Noer yang berada di antara sumber-sumber yang dikeramatkan di tujuh desa di Kecamatan Panti,” ujar petugas pembacaan narasi budaya.

Tradisi tilik sumber juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pada pagi hari. Masyarakat bersama sejumlah tokoh dan pemerintah desa mengambil tujuh sumber mata air dari tujuh desa di Kecamatan Panti.
Tujuh sumber tersebut kemudian ditempatkan dalam tujuh kendi. Air dari masing-masing sumber nantinya akan disatukan dalam sebuah ritual pada satu titik yang telah disepakati bersama oleh tujuh desa.
Dalam narasi budaya yang dibacakan, kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan karya Mbah Yai Noer yang dikenal sebagai Bait 12. Konsep pitung atau tujuh, seperti tujuh langit dan tujuh bumi, menjadi salah satu gambaran simbolik yang digunakan untuk membaca hubungan antara tradisi tilik sumber dan Legin.
“Ke depan, harapannya ini menjadi makna keberkahan kita atas kegiatan Haul Karomah ke-109 Mbah Yai Noer,” lanjut petugas tersebut.
Bagi masyarakat Kemuningsari Lor, Legin bukan tradisi yang baru berlangsung sekali. Kepala Desa Kemuningsari Lor, Abdul Waqi, S.Pd., menyebut kegiatan tersebut telah dilaksanakan masyarakat selama kurang lebih 11 tahun.
