Krisis Ekologi, Krisis Spiritual

Di tengah kehidupan modern saat ini, memang tak diragukan lagi bahwa tempat hidup kita —alam— seakan-akan sudah berada di ambang batasnya. Dengan berbagai krisis lingkungan yang terjadi, esensi dan eksistensi manusia sebagai khalifah yang diberi tanggung jawab untuk merawat dan menjaga alam juga seolah ikut terkikis, bahkan hampir sirna.

Seyyed Hossein Nasr, salah seorang cendekiawan muslim kontemporer, dalam bukunya Antara Tuhan, Manusia, dan Alam menyoroti bahwa krisis lingkungan yang terjadi kini sebenarnya merupakan akibat dari hilangnya spritualitas manusia yang telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan alam. Manusia saat ini sering kali lupa dan tidak sadar dengan amanah Tuhan sebagai penjaga alam. Alhasil, berbagai krisis lingkungan terjadi sebagai konsekuensi dari kelalaian manusia akan tanggung jawab serta amanah Tuhan tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Alam kini sering kali dipandang sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin. Sudah jauh berbeda dengan tujuan awal penugasan manusia sebagai khalifah. Alam seharusnya dirawat dan dipelihara dengan sepenuh hati, bukan sebaliknya, digeruk habis-habisan.

Dengan berbagai potensi dan kemampuan yang telah Allah berikan, manusia tidak sepatutnya memosisikan diri di bawah alam. Manusia tidak boleh tunduk dan menjadi budak materi. Jika manusia tunduk kepada selain Allah, terbawa gemerlap duniawi, tergoda unduk mengeksploitasi alam, maka ia telah membalik posisi yang diarahkan Tuhan sebagai khalifah. (Shihab, 2023, hlm. 65).

Krisis ekologi dengan demikian tidak dapat dilepaskan dari krisis batin manusia itu sendiri. Nasr juga mengungkapkan bahwa manusia saat ini memandang alam dengan tanpa makna atau dengan kata lain alam telah didesakralisasi dan tak lagi memiliki dimensi spritual. Lebih lanjut lagi, kehidupan seperti ini akan membuat manusia mendominasi alam dengan pola pikir materialistis, yang pada akhirnya menciptakan krisis dan ancaman serius yang tak perlu lagi dijelaskan.

Melalui dominasi ini, manusia semakin menuntut banyak terhadap alam, didukung dengan nafsu dan ketamakan yang tak kunjung berakhir akan sesuatu yang diangggap sebagai kebutuhan, padahal sering kali hanyalah sebuah keinginan belaka.

Dominasi ini akan memunculkan sifat binatang dalam diri manusia dan menghilangkan dimensi spritualnya. Dominasi ini juga berarti bahwa alam telah tersekulerisasi; dipandang hanya sebagai sumber materi tanpa nilai spiritual yang sejatinya harus dihormati dan dijaga. Sekularisme membuat manusia semakin jauh dari agama sebagai sumber spritual, sehingga manusia kehilangan rasa tanggung jawab terhadap alam.

Dalam analogi Nasr, alam yang seperti ini telah dipandang oleh masyarakat modern sebagai “pelacur” —dimanfaatkan tanpa ada arti kewajiban dan tanggung jawab. Sebaliknya, jika ketika menelisik melalui kacamata masyarakat tradisional, alam diperlakukan bagai seorang “istri” di mana seorang suami memikul tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memeliharanya.

Alam sebagai manifestasi Tuhan

Dalam bukunya, Islam, Sains, dan Muslim: Pergulatan Spiritual dan Rasionalitas, Seyyed Hossein Nasr mengungkapkan bahwa Alam adalah manifestasi dan refleksi dari kebesaran serta keagungan Allah. Bahkan, Nasr beranggapan bahwa alam memiliki posisi yang setara seperti ayat al-Quran, yaitu sebagai tanda kekuasaan Allah. Perbedaanya hanya tertetak pada bentuk, yakni al-Quran tersusun dalam bentuk tulisan sedangkan alam tidak. Dengan demikian, sebagaimana Al-Qur’an tidak boleh diperlakukan secara semena-mena, alam pun harus dijaga. Aktivitas manusia hendaknya berorientasi pada pelestarian, bukan perusakan alam.

Al-Quran sendiri mengajarkan manusia untuk menjalin cinta dengan alam sehingga manusia dapat memelihara dan mengembangkannya serta menjauhkan semua hal yang dapat mengganggu kelestarian alam. Al-Quran juga menggambarkan bahwa tanah dan tumbuhan pun memiliki rasa sebagaimana manusia, maka wajar jika Islam menuntut manusia untuk bersahabat dengan alam. (Shihab, 2023, hlm. 88-87). Bahkan, benda-benda mati pun dianjurkan untuk diberi kasih sayang, hal ini terlukiskan pada sabda Nabi di tengah-tengah bergolaknya perang uhud: “Gunung Uhud mencintai kita dan kita pun mencintainya.” (HR. Muslim).

Demikianlah Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan penuh kasih sayang dan bersahabat dengan alam, tidak hanya kepada makhluk hidup namun, juga terhadap benda-benda tak bernyawa. Nabi Muhammad saw. sendiri sering memberi nama-nama indah untuk benda atau alat sehari-hari beliau. Misal pedang beliau diberi nama dzu al-fiqar, cermin beliau al-midallah, gelas minum beliau ash-shadir, dan sebagainya, menunjukkan bahwa benda-benda tersebut seakan memiliki roh atau kepribadian yang seharusnya juga dicurahkan rasa kasih sayang dan mereka juga mendambakan persahabatan. (Shihab, 2023, hlm. 90).

Untuk mengatasi krisis lingkungan, manusia harus mengembalikan dimensi spiritual dalam kehidupan mereka. Alam seharusnya tidak hanya dipandang dari sisi ilmiah dan material saja, tetapi juga sebagai bagian dari ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik. Manusia perlu menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab atas setiap tindakannya yang memengaruhi lingkungan.

Dengan mengembalikan kesadaran ini, kita dapat meneguhkan kembali peran kita sebagai khalifah yang selaras dengan alam; menjaga bumi bukan hanya sebagai pengguna yang egois, melainkan sebagai penjaga yang penuh kasih dan hormat terhadap ciptaan Tuhan.

Singkatnya, krisis lingkungan yang kita alami hari ini berakar pada krisis cara pandang manusia terhadap alam. Ketika alam hanya dilihat sebagai sumber keuntungan, kerusakan pun tak terelakkan. Sudah saatnya kita memulihkan kesadaran spiritual agar alam kembali diperlakukan secara terhormat. Dengan begitu, manusia dapat menjalankan perannya sebagai penjaga bumi, bukan perusaknya. Jejak kecil berupa kesadaran spiritual untuk menjaga alam hari ini adalah tabungan dengan dampak besar untuk keberlanjutan bumi esok hari. Wallahul musta’an.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan