Lagu Caping Gunung Bergema di Festival “Boysun Bahori”

Lagu Jawa yang begitu kondang, Caping Gunung, bergema dan menghipnotis di the XIII International Folklore Festival “Boysun Bahori” di Baysun, Surkhandarya, Uzbekistan. Lagu tersebut dibawakan oleh kelompok musik dari Yogyakarta, Ki Ageng Ganjur. Festival berlangsung 1-2 Mei 2026.

Setelah dibuka oleh Gubernur Sukhandariya, Ulugbek Berdikobilovich Kasimov, kemarin malam, seluruh negara peserta tampil di panggung utama festival. Ki Ageng Ganjur mendapat undian tampil pada urutan kedelapan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di hadapan ribuan penonton yang memadati lokasi festival, Ganjur membawakan lagu Jawa Caping Gunung. Lagu ini dipilih karena memiliki nilai historis dan cocok dengan lokasi tempat penyelenggaraan festival yang ada di daerah pegunungan.

Lagu Caping Gunung dibuat dalam dua komposisi: versi langgam yang lembut mendayu dan versi sragenan yang dinamis. Penampilan Ganjur diiringi penari latar, Eci, yang menginterpretasikan syair dan musik dengan gerakan tari, sehingga suasana menjadi semakin hidup.

Penampilam Ganjur mendapat respons dan apresiasi yang cukup tinggi dari penonton. Hal ini terjadi karena Ganjur membawa gamelan sebagai pengiring. Instrumen yang aneh dan unik di mata peserta yang rata-rata menggunakan perkusi, petik, dan tiup.

Penonton sudah berdecak kagum saat vokalis Ganjur, Chris Verani, membuka lagu dengan “bowo” (pembuka) yang mendayu. Suasana hening saat lagu versi langgam dibawakan. Mereka seperti terhanyut dalam alunan nada yang lembut dan mistis.

Applaus meriah diberikan ketika ritme berubah menjadi gaya sragenan yang dinamis. Suasana langsung berubah dari hening ke riuh dengan tepuk tangan dan tarian.

Saat turun dari panggung, personil Ganjur langsung mendapat ucapan selamat dari para peserta dari negara lain dan panitia. Mereka menyampaikan rasa simpati dan tertarik atas penampilan Ganjur unik dan eksotik. Bahkan peserta dari Yunani menyatakan pingin berkolaborasi dengan Ganjur.

Malam hari, saat dinner, Ganjur diundang panitia untuk tampil. Karena spontan dan tidak ada persiapan musik, maka Ganjur tampil secara lipsing membawakan lagu Maumere. Ganjur mengajak semua tamu menari bersama diiringi lagu Maumere yang dipandu oleh Aci.

Lagu Maumere malam itu berhasil menyedot perhatian para tamu. Hampir semua tamu yang hadir turun dan menari. Suasana makan malam menjadi akrab dan penuh kekeluargaan.

Sekat-sekat kebangsaan malam itu kembali lebur dalam tarian. Tak ada lagi warga Aghanistan, Uzbekistan, Yunani, Jerman, Indonesia, dan sebagainya. Semua menyatu dalam gerakan tari dan alunan nada Lagu Maumere.

Hari itu Caping Gunung dan Maumere benar-benar bergaung di panggung dunia. “Bangga rasanya bisa berada di tengah masyarakat dunia tanpa kehilangan jati diri dan identitas kultural. Apalagi dapat menjadikan budaya bangsa sebagai sarana perajut dunia,” ujar Al-Zastrouw, pentolan Ganjur, kemarin.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan