ODE UNTUK PAHLAWAN PENDIDIKAN

TERIMA KASIH PAHLAWAN PENDIDIKAN 
Teruntuk: Guru Ponpes. Al-Mardliyyah dan Annuqayah

Sudah waktunya aku mencium bunga
bunga yang selalu bersemi dalam dada
urutan bahasa membentuk makna
dari engkaulah pengetahuan bermuara

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Terima kasih pahlawan pendidikanku
meski kadang kami sering menggerutu
napas abdimu tak terbatas oleh waktu
setiap hari terpatri semangat menggebu
menghiasi catatan lembaran baru

Meskipun benih ikhlas akan selalu terkuras
manakala pundi-pundi iman tergadaikan
kadang raga mulai malas
dari situlah hatimu tetap berkata jangan
sebab mungkin raga digerogoti setan

Sekali lagi terima kasih guru
sajak ini ku persembahkan untukmu
mari saatnya guru bergembira
karena nikmat kebaikan bakal mengiringi jejak kalian semua.

 

SAATNYA GURU BAHAGIA
Teruntuk: Rekan sejawat guru seluruh Indonesia

Kasih guru kepada beta
bagai sang Surya menyinari dunia
hanya memberi tak akan meminta
jiwa dan raga pahlawan tanpa jasa

Lagu itu selalu terdengar menghiasi telinga
di antara keringat membentuk bulir-bulir pahala
sebab kadang banting tulang tak selaras dengan rintik hujan
selama satu bulan bersemayam terkadang hanya cukup napas setengah kehidupan
yang berselimut ikhlas dalam makna keberkahan

Sungguh betapa berharga catatan waktumu
yang engkau abdikan dengan kasih dan rindu
semoga dunia kelam segera berlalu
sebagaimana semangat abdimu berkobar selalu

Sementara itu di kejauhan kami semua merasa iba
memeluk erat tubuh dengan cahaya cinta
hanya aliran doa yang bisa kami tengadahkan
sambil berharap jasamu mulia hingga akhir zaman

Wahai kepada rekan sejawatku
kepal tangan maju kemuka
singsing lengan semangat membara
jangan sampai semangat itu padam
meski kobaran kayu bakar masih agak buram
sebab jasamu sangatlah mulia
menebarkan ilmu kepada generasi bangsa

Selamat hari pendidikan nasional buat kita semua
amal, bakti, jiwa dan raga teruntuk Indonesia tercinta.

 

SANG PENERANG JIWA

Barang kali di antara gelap gulita
sosoknya selalu hadir dengan sinar mempesona
mengeja ratusan kata menjadi bahasa
hingga engkau abdikan purna usia
kepada bumi pertiwi tercinta

Barangkali otak kami seperti batu
keras jika tidak ada tetesan air
sebagaimana cerita usang masa lalu
antara Ibnu hajar dan air mengalir
engkau terus mengairi otak-otak yang kadang mumet untuk sekedar berpikir.

Bagiku engkau penerang jiwa
merasuk dalam sendi raga
bersemayam merangkai makna
prilaku pun menjadi tauladan mulia

Ia, dia adalah guru penuntun rindu
penerang jiwa di atas kepala
sampai uzur ufuk jalan waktu
kegigihan mu mengetuk logika
selalu terpatri bersama rintihan doa.

Stidkis, 2026.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan