Kita diciptakan Tuhan dari kegelapan rahim ibu, mak-e, ummi’, bunda, mbok-e, mak-e, mama, dan lain-lain setiap anak memanggil perempuan yang melahirkannya. Dengan tangis dan tanggung jawab tak terundangkan untuk hidup. Dan di hadapan sakit, gelar-gelar kehilangan kilaunya. Di hadapan ajal, semua kata-kata menjadi bisu.
Kesetaraan yang demikian itu adalah penemuan yang menyakitkan; bahwa manusia punya kesamaan meliputi tubuh yang bisa aus, hati yang takut kekurangan harta, ketidakpastian masa depan, dan kemampuan untuk berbuat baik atau menyakiti selainnya.

Perbedaannya saat manusia berlaku, bertingkah, memuji atau mencela, menghasut atau mendukung, kaya atau miskin, dan lain-lain sebagainya. Harta bisa memperindah wajah, setidak-tidaknya dicitrakan baik sebab punya harta yang berlimpah dan lebih dari yang lain. Nama bisa membuka pintu. Jabatan bisa menuntun berjalan mulus. Dan memang begitulah hidup ini berjalan, setidak-tidaknya kebanyakan.
Tetapi, guru saya bilang, semua adalah kulit. Kadang indah, kadang sobek. Tidak jelas. Ada manusia yang memakai kulit mewah tetapi hatinya rapuh karena lupa menimbang sesama. Ada yang hanya membawa sedikit namun hatinya penuh tanggung jawab pada yang lemah. Seberapa dalam seseorang meresapi batas-batas kemanusiaan dan menyusunnya menjadi tindakan, sedemikian itulah pula ia dapati pelajaran.
Ukuran yang pantas untuk mengukur manusia tidak tersusun dari angka rekening atau deretan huruf di belakang nama. Ukurannya adalah ketajaman hati untuk peka terhadap tangis bayi yang lapar, kepada mereka yang meratapi pekerjaan yang hilang, kepada yang mengetuk pintu orang tua yang kesulitan mencari nafkah. Itu yang memanggil kita pada takwa. Takwa adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Lebih jabar adalah cara seseorang hidup dengan kepekaan terhadap yang hak, dengan keberanian merendah ketika kesombongan mulai muncul di permukaan, dengan kesiapan menanggung malu demi kebaikan yang lebih besar.
Takwa menuntun pada tindakan kecil yang konsisten, ajek, istikamah, memberi ketika tangan terasa sempit, menahan lidah saat amarah menyalak, memegang janji saat keuntungan menggiurkan lewat.
Tindakan semacam mungkin sederhana dan remeh, tapi membentuk karakter setiap manusia. Dan Tuhan melihat mata hati setiap hamba. Wallahu bashirun bima ta’malun. Allah melihat segala yang kita lakukan. Dalam ayat lain, disebutkan, “Allah mengetahui pengkhianatan (penyelewengan dan ketiadaan jujur) pandangan mata seseorang, serta mengetahui akan apa yang tersembunyi di dalam hati.”
Tetapi belakangan ini semakin marak, agama dijadikan tipu daya. Kalimat-kalimat dipoles, dicitrakan “saleh” dipamerkan untuk menutupi kehampaan. Ketika agama dimanfaatkan sebagai perhiasan, maka akan kehilangan beratnya sebagai penopang moral. Seorang yang pandai melafalkan doa belum tentu pandai menimbang hak orang lain. Seorang yang salat dengan rapi belum tentu tahu bagaimana memulangkan utang nuraninya terhadap sesama. Sejarah sering penuh ambiguitas, apalagi sejarah kita sendiri. Betapa tindakan besar dapat lahir dari kesombongan, dan tindakan kecil yang tampak hina bisa menjadi pengorbanan yang ikhlas.
Maka, pertanyaannya tidaklah, “Siapakah yang paling tampak saleh di antara kita?” melainkan “Siapa yang paling mengetahui batas dirinya dan menyesuaikan tindakannya dengan pengetahuan itu?” “Siapa yang ketika diberi kuasa, menimbangnya sebagai amanah? Ketika diberi kelemahan, menyambutnya sebagai pelajaran? Ketika diberi kesempatan, memilih kasih daripada gengsi?
Itulah bentuk insan yang berimplikasi konkret dengan merawat, memberi, menyelamatkan, menahan.
Ketika malam mulai larut dan menjelang tidur, apakah ada rasa malu yang mendorong untuk memperbaiki hidup kita? Atau justru keangkuhan yang merampas kemampuan untuk berubah? Manusia yang baik banyak legawa, tidak sok dewasa, tidak menilai sana dan membawa ke sini, tetapi melihat diri sendiri dan bermuhasabah. Meski menyakitkan karena memantulkan kebiasaan yang selanjutnya harus diubah, tapi yang demikian itu adalah langkah untuk tidak merugi di kemudian hari.
Pendek kata, persamaan dasar kita adalah jalan bersama. Perbedaan yang berarti adalah bagaimana setiap langkah diarahkan. Ada yang memilih jalan yang meruncing pada kepentingan diri, ada yang memilih jalan yang merenggang untuk memberi ruang pada yang lain. Ukurlah dengan takwa. Fazinuuhu bi mizani as-syari’at, timbanglah dengan syariat, bagaimana seorang menjalankan syariatnya, bukan hanya hal-hal mistis yang kerap dijumpai dan ditampakkan.
Takwa adalah praktik yang menuntun hidup kita, bukan label dari segala sifat manipulatif. Karena ketika semua itu dirampas, yang tersisa hanyalah nama-nama pada catatan dan nisan. Ketika takwa menguat, hidup menjadi jawaban yang layak untuk setiap panggilan kebaikan.
Kita semua memang sama dalam hal asal dan tujuan yang pasti. Bedanya terletak pada kedalaman hati yang merawat kemanusiaan. Siapa yang paling bertakwa akan menunjukkan itu melalui tangan-tangan yang memberi, kata-kata yang menumbuhkan, dan keheningan yang mampu mendengar.
Jangan kemaki, ita-itu, petita-petiti, dan yok-yok-o paling berjasa dalam setiap kehidupan manusia, apalagi di sebuah lingkungan sosial. Sebab sebaik apa pun manusia, dia butuh pada sehat. Dan siapa yang dapat berkutik di hadapan sakit? Semua orang pasti ingin sehat dan sembuh, tetapi sekali pun, batas ikhtiar, usaha manusia hanya berobat, tidak punya otoritas dan kuasa apa pun untuk menentukan ajalnya sendiri.
Wallahu a’lam.
