Foto bersama keluarga besar pp i'anah futuhiyah karangbrai

Santri Assalafi I’anah Futuhiyah Ziarah Makam Wali

Santri Pondok Pesantren Assalafi I’anah Futuhiyah Karangbrai, Pemalang, Jawa Tengah, melaksanakan kegiatan ziarah wali ke Demak dan Kudus. Ziarah wali pada Minggu (30/8/2026) ini merupakan yang kali pertama digelar.

Kegiatan ini berawal dari obrolan ringan antara saya dan Kang Tolhah (Lurah Pondok) yang berharap ziarah dapat menjadi agenda tahunan. Tujuan utamanya bukan sekadar berziarah, melainkan memberikan pemahaman kepada para santri mengenai perjuangan Islam di Tanah Jawa serta tatanan peradaban di sekitarnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perjalanan diawali dari Desa Karangbrai, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Kami berangkat malam hari sekitar pukul 23.00 WIB menuju Kudus. Rombongan yang berjumlah sekitar 70 peserta ini diangkut menggunakan satu bus besar dan satu bus medium.

Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti di rest area dan beristirahat sekitar setengah jam. Kami menikmati aroma kopi panas, teh hangat, serta terpaan angin malam yang dingin. Dari rest area, perjalanan berlanjut menuju Kudus. Rombongan tiba di Terminal Kudus sekitar pukul 04.00 WIB. Untuk menuju area makam Sunan Kudus, kami melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek setempat.

Tepat saat azan subuh berkumandang, kami tiba di area makam Sunan Kudus dan langsung melaksanakan salat subuh berjamaah. Sehabis salat, kami berziarah ke makam Sunan Kudus. Usai berziarah, panitia memberikan waktu luang selama satu jam kepada para santri untuk mandi, makan, dan berfoto.

Setelah seluruh agenda selesai, kami kembali ke terminal. Kali ini kami tidak menggunakan ojek, melainkan naik angkutan umum karena harganya yang lebih terjangkau. Dari terminal, bus perlahan melaju menyusuri jalan raya Kudus–Demak yang tertata rapi.

Di dalam bus, saya merefleksikan perjalanan ziarah di makam Sunan Kudus. Bagaimana perjuangan Sunan Kudus dahulu? Seikhlas apa beliau memperjuangkan Islam dan kedamaian? Mengapa makamnya selalu dipadati para peziarah? Efeknya begitu luar biasa hingga saat ini. Saya yakin, orang-orang yang meneladani kisah kehidupan Sunan Kudus akan senantiasa mendapatkan keberkahan.

Ketika bus berhenti di Kadilangu, Demak, kami langsung disuguhkan oleh padatnya aktivitas masyarakat lokal, mulai dari pedagang, tukang ojek/becak, hingga para peziarah dari berbagai kota.

Kami berjalan memasuki kawasan makam Sunan Kalijaga melewati deretan ruko yang menjual pakaian, makanan, dan oleh-oleh khas ziarah. Sungguh sebuah pemandangan yang indah. Saya melihat perputaran roda ekonomi berjalan dengan sangat baik di sini.

Sesampainya di makam Sunan Kalijaga, suasana tampak sangat ramai. Lantunan doa, zikir, dan salawat yang bergema membuat nuansa spiritual kian terasa. Kami mencari ruang yang masih kosong untuk tempat berzikir rombongan. Usai ziarah, perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Agung Demak dengan menggunakan jasa ojek.

Memasuki waktu zuhur, kami melaksanakan salat berjamaah terlebih dahulu. Tanpa berlama-lama, kami kemudian berkunjung ke Museum Masjid Agung Demak. Di sana tersimpan berbagai peninggalan sejarah masjid tersebut.

Menariknya, masyarakat Demak memandang sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan pelajaran penting untuk masa depan. Museum, monumen, dan arsip-arsip sejarah dikelola tidak hanya untuk tujuan wisata, tetapi juga untuk mendidik generasi muda agar tidak tercerabut dari akarnya.

“Kalau anak muda tahu dari mana mereka berasal, mereka akan tahu ke mana harus melangkah,” ujar salah seorang penjaga museum.

Dari museum, kami melanjutkan ziarah ke makam Raden Patah. Sekitar satu jam kemudian, kami kembali ke Kadilangu untuk membeli oleh-oleh. Bus akhirnya melaju kembali menuju Desa Karangbrai pada pukul 20.00 WIB.

Dari Kudus yang menanamkan nilai toleransi hingga Demak yang menumbuhkan kebijaksanaan dalam keberagaman, sejarah dan masa depan berpadu dalam satu ruang kesadaran yang utuh.

Perjalanan ke Kudus dan Demak bukan sekadar perjalanan wisata religi. Ini adalah cermin peradaban keislaman dan kebijaksanaan—sebuah ruang tempat sejarah, perjuangan, dan nilai budaya berpadu harmonis.

Melalui perjalanan ini, kami berharap para santri tidak hanya memahami sejarah dan nilai perjuangan para wali, tetapi juga nilai-nilai budaya, ekonomi, dan sosial yang berkembang di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan