SULUK DI BAWAH LANGIT YANG LUKA

SULUK PURNAMA SIDHI

Tuhanku telah membentuk kita dari rahasia ketiadaan
Tempat terbit-tenggelam gejolak batinku adalah kuasa-Nya
Langit Muharram melantun kidung kabingahan
Harum mangir bercampur wangi dupa-setanggi memadati sukma sunyi
Purnama sidhi menggantung di atas langit kota
Merekahlah bunga-bunga doa
Mekarlah kelopak-kelopak harapan
Semerbak takjub tanpa lafal
Keridaan hidup adalah wujud tasbih cinta kita yang mulia
Gusti, luruhkan jiwa dalam sumeleh yang suci

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

30 Juni 2026.

ATAS NAMA CINTA, KITA SAUDARA SEDARAH

Aku jengah menghitung lonceng kematian
Sedang aku takut
Pada batu nisan
Pada tabur bunga
Pada pemakaman di perut bumi

Cahaya terbit-tenggelam pada cakrawala jiwaku
Bagaimana kematian yang laik?
Yang tak membonceng iblis berambut api

Bahasa Tuhan lebih terang dari matahari
Langit telah menuliskan puisi
Bintang-gemintang dan Bima Sakti menjadi isi
Maut mengintai di detak nadi
Menjadi alas kaki manusia yang menjauh berlari

Maut bukanlah lelucon lagi
Matanya menyala-berapi
Di bawah langit merah ia benar marah
Dipakainya baju zirah
Diacungkannya cambuk di atas pedati

Kemanapun anak-anak adam bersembunyi
Mata Tuhan selalu awas mengamati
Berbisik Ia pada ruh dalam segumpal tanah
“Kuberikan izin hidup atas jiwamu, dan maut sebagai teman dan pendampingmu yang setia”

Atas nama cinta
Kusimpan sabit tajam di balik punggungmu
Jiwa-jiwa terbang bersayap
Maut dapat kapan saja memangkas sayap-sayapnya
Maka ketahuilah
Kasih dan maut adalah saudara sedarah

24 Juni 2026.

DI ATAS TANAH, DI BAWAH LANGIT YANG LUKA

Sekali waktu keadaan bangsa ini pernah kacau
Dan sekarang semakin kacau lagi
Waktu dan segala yang dikandungnya
Adalah pemahat agung

Kekacauan tak pernah benar-benar pergi
Kekacauan hanya berganti wajah
Berganti nama
Berganti orang-orang yang tenggelam dalam pusaran kuasa

Asaku tak pernah sekalipun akan berubah
Seperti purnama
Sepenuh cahaya pada garis edarnya

Nasib hidup manusia di atas negeri yang luka seperti cuaca
Pagi dijanjikan cerah
Siang dipanggang resah
Dan petang lelap dalam kandungan amarah

Batu tarung orang-orang kalah adalah nuraninya
Diterjang harga pasar serupa air pasang
Mati menelan keringat harapan

Biarlah langit kacau.
Biarlah badai mengamuk.
Di bawah langit yang luka
Bulan tetap bulan
Purnama tetaplah purnama.

Dan aku
Tetap tegak di atas tanah negeriku
Bersama asa
Berbalut mimpi
Esok
Aku menjelma fajar

23 Juni 2026.

YANG HARUM TANPA NAMA

Hari baru terbit melepas laju cahaya di batas cakrawala.
Di bawah hampar langit fajar, gumpal awan tak memecah cahaya.
Sinarnya mengkanvas kuning keemasan memancar ke segala arah.
Lembut cahayanya meresap, menembus jantung taman,
menyibak arus awan, menembus celah ranting dan dedaunan.
Langit yang jingga, anggun dan menawan pada balutan warnanya

Wahai kelopak mawar yang jelita, tengadahlah.
Hadapkan wajahmu kepadaku jika kau sungguh berani mencinta.
Lihatlah kumbang-kumbang yang terbang menuju cahaya.
Mereka tidak mencari bunga, tidak mencari taman,
ia mencari Sang Pemilik Keharuman.

Wahai mawar yang jelita,
berapa lama lagi kau hendak menghitung sayap yang melintas?
Berapa lama lagi kau hendak menakar cinta
dari siapa yang datang dan siapa yang berpaling?

Kumbang tak pernah menolak mawar.
Cahaya pun tak pernah merebutnya.
Di taman semesta, setiap makhluk
sedang ditarik oleh rahasianya masing-masing.

Wahai mawar yang salah sangka,
mekarlah.
Jangan karena ada yang datang.
Jangan pula karena ada yang pergi.

Maka mekarlah,
Sebagaimana fajar merekah,
Tanpa menyimpan tanya siapa yang menyambutnya.

Maka menarilah,
Sebagaimana cahaya mengukir keabadian pada bening embun,
Sementara fajar diam-diam menghitung usia keduanya.

O, jiwa-jiwa yang mengembara dari musim ke musim,
Yang terbakar dalam semburat arah,
Berhentilah mengejar langkah bayanganmu sendiri.

Bayangan tidak pernah sampai ke mana-mana.
Ia lahir dari punggungmu yang membelakangi cahaya.

Berbaliklah.
Sebab yang kau cari dalam wajah-wajah yang singgah,
Dalam sayap-sayap yang melintas,
Dalam segala yang terbit-tenggelam,

Sesungguhnya telah lama menunggumu
di dalam taman hatimu sendiri.

Dan akhirnya kita sama mengerti;
mawar tetap mawar,
kumbang tetap kumbang,
dan cahaya tetap cahaya.

Namun kesalahpahaman kita tentang cinta
gugur perlahan seperti kelopak terakhir pada penghujung Mei.

Lalu yang tertinggal hanyalah harum,
tanpa bunga,
tanpa taman,
tanpa nama.

19 Juni 2026.

KIAMAT DIAM-DIAM

Malam mengunyah lampu jalan.
Kota sesak asap dan kesepian.
Kulihat langit tergunting menjadi potongan-potongan.
Bintang-bintang tercecer di jalanan.

Jam dinding batuk.
Pukul dua lewat sedikit kehilangan.

Di luar, hujan menggantung tubuhnya
di kabel-kabel listrik.

Mimpiku bocor sampai ke pelataran.

Jam dinding batuk lagi.

Waktu retak memantulkan wajahku jadi tiga bagian:
yang satu ingin pulang,
yang satu ingin hilang,
yang satunya lagi ditelan cinta setengah jalan.

Ia tidak marah,
ia tak mau kalah,
itu yang paling mengerikan.

Layar kecil bercahaya.
Nyala, berbicara tanpa suara.

Iklan sabun lewat.
Iklan surga lewat.
Iklan pemerintah pun lewat.

Muak.

Seekor tikus melintas di bawah meja,
membawa potongan roti dan sedikit harga diri manusia.

Orang-orang berbicara tentang cinta
dengan mulut penuh beling.
Mereka memandangi satu sama lain
sambil diam-diam menghitung jalan keluar.

Hujan terus jatuh,
seperti mulut ibuku yang tak selesai mendoakan anaknya.

Aku ingin menangis,
tapi air mataku penuh kaca.

Dan hujan
terus jatuh tanpa memilih atap.

Layar kecil bercahaya tetap menyala.
Nyala.
Seperti mata Tuhan yang dipaksa lembur
mengawasi anak manusia:

yang gamang,
yang tak tentu arah,
yang luka,
yang duka,
yang kalah.

Aku mendengar jam dinding batuk lagi.
Jarumnya copot sebelah.
Waktu mulai berjalan pincang.

Lalu langit tetap saja sibuk jadi langit.

Dan aku,
aku pulang ke tubuhku sendiri,
menemukan banyak furnitur telah pindah tempat.

Paru-paruku penuh arsip.
Di jantungku ada antrean panjang
orang-orang mati
yang belum sempat diberitahu bahwa dunia telah kiamat diam-diam.

Tangan gemetar.

Di luar, hujan belum selesai jadi hujan.
Ia jatuh ke masjid.

Ia jatuh ke rumah orang orang kaya.

Ke rumah orang tak punya.

Ke rumah tuan tanah.
Ke kantor pemerintah.
Ke kantor polisi.
Ke kantor politisi.
Ke ranjang-ranjang rumah sakit.
Ke perut kosong anak manusia asuhan negara.

Dan langit,
sialan langit itu,
tetap biru di brosur-brosur wisata.

Jam dinding batuk keras sekali.

Kali ini jarumnya patah seluruhnya.
Waktu roboh di lantai,
seperti buruh tua yang mati lembur
tanpa sempat pulang.

Lampu berkedip.
Listrik megap-megap.
Layar kecil akhirnya padam.

Sunyi naik dari bawah lantai.
Duduk di sampingku.

Berbisik ia pada telinga batinku:

“Barangkali sejak awal
yang paling sepi bukan malam,
tetapi manusia.”

11 Mei 2026.

Sumber ilustrasi: TikTok.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan