Menariknya, buku yang saya baca ini juga mencatat bahwa pemikiran politik Al-Ghazali memiliki kedekatan dengan kekuasaan dan berkaitan dengan patronase dari penguasa. Bagian ini justru harus dibaca secara kritis.
Kita tidak harus menerima seluruh pemikiran Al-Ghazali begitu saja. Ia hidup dalam situasi politik yang berbeda dengan Indonesia sekarang. Tetapi kita bisa mengambil persoalan yang masih relevan dari pemikirannya.

Agama tidak harus jauh dari kekuasaan. Ulama juga tidak harus memusuhi pemerintah. Tetapi ketika ulama sudah masuk ke lingkar kekuasaan, ia harus lebih berhati-hati menjaga dirinya sendiri.
Sebab yang paling berbahaya bukan ketika ulama berada dekat dengan penguasa. Yang lebih berbahaya adalah ketika kedekatan itu membuat ulama lupa untuk mengingatkan penguasa.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar “apakah ulama boleh dekat dengan pemerintah?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “ketika sudah dekat dengan kekuasaan, apakah ulama masih berani mengatakan yang benar?”
Mungkin di situlah pemikiran Al-Ghazali masih relevan untuk kita baca hari ini. Dan poin pentingnya ulama boleh berada dalam lingkar kekuasaan, tetapi jangan sampai harta, jabatan, dan kedekatan membuatnya kehilangan keberanian untuk menjaga amanah.
