Ketika Otoritas Absolut Menjadi Pintu Masuk Setan

21 views

“Undzur ilaa maa qola wala tandzur ilaa manqola”— lihatlah apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara.[1] Pepatah Arab ini mengingatkan kita bahwa kebenaran tak mengenal hierarki. Tapi di pesantren, pepatah ini seringkali mati sebelum sampai ke telinga. Di sini, adab dan adat berkelindan sedemikian tipisnya, hingga kritik dianggap pengkhianatan, sementara kepatuhan buta dianggap bukti ketakwaan.

Bahkan Lord Acton, sejarawan Inggris, pernah memperingatkan: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”[2] Persis di titik inilah oknum kiai—sebagai absolut power yang titahnya tak terbantah—menjadi sasaran empuk bisikan setan.

Advertisements

Sejarah Islam sebenarnya meriwayatkan gemuruh perbedaan pendapat. Imam Syafi’i, murid Imam Malik, tak ragu mengkritik metode qiyas gurunya. Ibnu Malik menulis Alfiyyah, meski gurunya, Ibnu Mu’ti, sudah lebih dulu menulis kitab nahu. Tapi mereka tak dianggap “durhaka.” Justru, inilah adab sejati: menghormati guru bukan dengan menundukkan kepala, tetapi dengan menjaga kemurnian ilmu, bahkan jika harus mengoreksi kesalahannya[3].

Sayangnya, hari ini, banyak pesantren mengubur semangat ini di bawah tumpukan adat. Adat ‘patuh tanpa reserve’ disulap menjadi adab “wajib taat,” seolah-olah mengkritik guru adalah dosa. Padahal, Al-Qur’an tegas: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak ketahui…” (QS. Al-Isra: 36)[4].

Di sinilah setan menemukan celah. Ketika seorang kiai diposisikan sebagai “absolut power”— figur terakhir yang titahnya tak boleh digugat—otoritasnya berubah jadi tirani.

Lord Acton benar: keabsolutan adalah ladang subur korupsi moral. Sejarah gereja abad pertengahan mengajarkan hal serupa: otoritas absolut pendeta melahirkan skandal Inquisition. Di pesantren, tragedi pencabulan terjadi ketika oknum kiai menggunakan dalih “ujian ketakwaan” untuk memaksa santri memijatnya, atau “perintah guru” untuk membuka hijab. Santri yang terpojok antara tunduk atau dianggap “durhaka” akhirnya memilih diam. Mereka lupa bahwa dalam kitab Adab al-‘Alim, Imam Nawawi menegaskan: “Seorang murid wajib menolak perintah guru yang jelas melanggar syariat.”[5]

Korupsi moral ini bukan sekadar persoalan oknum, tetapi sistemik. Adat pesantren yang menganggap kiai sebagai “penerus Nabi” menciptakan kultus individu. Tradisi sowan (sungkem) yang awalnya simbol penghormatan, berubah jadi ritual kepatuhan buta. Santri diajari “jangan membantah kiai” alih-alih “jangan membantah kebenaran.” Akibatnya, ketika ada kiai menyimpang, masyarakat pun ikut membungkam dengan dalih “jaga nama baik pesantren.” Padahal, prinsip sadd al-dzari’ah (menutup pintu kerusakan) dalam fikih mewajibkan kita mencegah kejahatan, meski harus mengkritik tokoh yang dihormati[6].

Lalu, bagaimana memutus lingkaran setan ini? Kuncinya ada pada memisahkan adab dan adat. Adab adalah etika universal: menghormati guru dengan cara kritis, bukan menuhankannya. Seperti kata Imam Al-Ghazali: “Ilmu tak akan berkembang jika murid hanya mengekor.”[7]

Adab dalam Islam merujuk pada sikap hormat, tata krama, dan etika yang diajarkan agama dalam proses menuntut ilmu. Contoh: menghormati guru, rendah hati, dan menjaga sopan santun. Namun, adab tidak berarti kepatuhan absolut. Dalam kitab klasik seperti Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (Imam Nawawi), kritik konstruktif kepada guru diperbolehkan selama disampaikan dengan cara yang santun dan ilmiah. Bahkan, Al-Qur’an menegaskan prinsip amar ma’ruf nahi munkar[8], yang mewajibkan setiap muslim—termasuk santri—untuk mengoreksi kesalahan, siapapun pelakunya.

Sementara, adat adalah tradisi lokal—kebiasaan atau budaya yang berkembang di komunitas tertentu, seperti sowan atau salam tempel (memberi uang ke kiai). Ini bukan bagian dari syariat, melainkan konstruksi sosial yang bisa berbeda antardaerah.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri bersabda: “Kebenaran itu jelas, dan kebatilan itu jelas” (HR. Bukhari-Muslim)[9]. Artinya, tak ada ruang untuk relativisme moral. Seorang santri yang melihat gurunya mencabuli temannya tak boleh diam hanya karena “itu kan kiai.” Sebab, adab tertinggi adalah menjaga martabat agama, bukan martabat individu.

Pepatah “undzur ilaa maa qola wala tandzur ilaa man qoola” mengajak kita kembali ke khittah: kebenaran adalah milik Allah, bukan monopoli kiai. Sejarah membuktikan, keabsolutan hanya melahirkan kehancuran. Di abad ke-8, Khalifah Al-Ma’mun memaksakan paham Mu’tazilah sebagai “kebenaran resmi,” hingga ulama yang menolak disiksa. Tapi lihatlah—paham itu akhirnya tumbang, karena kebenaran tak bisa dipenjara oleh kekuasaan[10].

Pesantren harus belajar dari ini. Mengkritik kiai bukanlah pemberontakan, melainkan bentuk jihad melawan kezaliman. Seperti pesan Imam Al-Ghazali: “Barangsiapa diam terhadap kebatilan, ia adalah setan yang bisu.”[11] Saat adab dan adat dipisahkan, santri akan paham: menghormati guru bukan berarti membiarkannya masuk neraka.

Catatan:

[1]: Syaikh Ali al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarh Misykah al-Masabih Jilid 1, hlm. 300

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الكَلِمَةُ الحِكْمَةُ ضَالَّةُ الحَكِيمِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا» إِلَى أَنْ قَالَ: وَرَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ عَنْ عَلِيٍّ وَكَأَنَّهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَخَذَ مِنْ هَذَا الحَدِيثِ مَا قَالَ مَوْقُوفًا: «انْظُرْ إِلَى مَا قَالَ وَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَنْ قَالَ».

[2]: Lord Acton, Surat kepada Uskup Mandell Creighton (1887), dalam Essays on Freedom and Power (Boston: Beacon Press, 1948), 364.

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men…”

[3]: Muhammad Abu Zahrah, Imam Malik: Hayatuhu wa ‘Asruhu (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1997), 215.

وكان الشافعي يُناقش الإمام مالك في بعض استنباطاته القياسية، مع احتفاظه باحترامه الكبير له

Dalam Tarikh Baghdad (Jilid 2, hlm. 62), Al-Khatib al-Baghdadi menulis:

كَانَ الشَّافِعِيُّ يَقُولُ: مَنْ أَرَادَ أَنْ يَتَبَحَّرَ فِي الْفِقْهِ فَهُوَ عِيَالٌ عَلَى مَالِكٍ. وَلَكِنَّنَا اخْتَلَفْنَا مَعَهُ فِي الْقِيَاسِ

[4]: Qur’an Surah Al-Isra 17:36.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولً

[5]: Imam Nawawi, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (Surabaya: Al-Hidayah, 2005), 53.

وَلَا يُطِيعُ الْمُتَعَلِّمُ شَيْخَهُ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّهُ لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ.

[6]: Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Damaskus: Dar al-Fikr, 1984), 4:245.

وَسَدُّ الذَّرِيعَةِ وَاجِبٌ إذَا كَانَتْ مُؤَدِّيَةً إلَى مَفْسَدَةٍ، وَلَوْ كَانَ فَاعِلُهَا مِنَ الْعُلَمَاءِ أَوْ الْمُرْجُوحِينَ

[7]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2000), 1:78.

لَا يَنْبَغِي لِلطَّالِبِ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى تَقْلِيدِ الشَّيْخِ، فَإِنَّ ذَلِكَ يُفْضِي إلَى جُمُودِ الْعِلْمِ.

[8]: Qur’an Surah Ali Imran: 110

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ…الأية

[9]: Hadis riwayat Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, No. 52.

عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «البَيِّنَةُ عَلَى مَنِ ادَّعَى، وَاليَمِينُ عَلَى مَنِ انْكَرَ، وَالحَقُّ بَيِّنٌ وَالبَاطِلُ بَيِّنٌ»

[10]: Al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985), 10:92.

وَأَجْبَرَ الْمَأْمُونُ النَّاسَ عَلَى قَوْلِ بِخَلْقِ الْقُرْآنِ، فَعُذِّبَ مَنْ أَبَى مِنَ الْعُلَمَاءِ

[11]: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2000), 2:123.

مَنْ سَكَتَ عَنِ الْبَاطِلِ فَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَس

Multi-Page

Tinggalkan Balasan