Malam datang seperti biasa: dengan bunyi jangkrik, dengan angin yang membawa bau tanah basah, dan dengan dingin yang menusuk di sela-sela jari. Di meja panjang itu, lampu minyak menggantung rendah, cahayanya temaram, bergetar samar-samar karena angin yang menyelusup dari lubang-lubang jendela.
Di ujung meja, duduk Pak Darman. Kepalanya menunduk dalam, tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Asap tembakau dari lintingannya menggulung lambat, melayang, dan akhirnya lenyap di antara atap bambu. Ia tidak banyak bicara malam ini. Atau mungkin sejak lima tahun terakhir.

“Dik Darto tadi dibawa pagi-pagi,” ujar Bu Karsi tiba-tiba. Ia menatap suaminya, tapi Pak Darman tidak menjawab. “Kata orang-orang, karena selebaran itu…”
Pak Darman hanya mengangguk kecil. Matanya masih menatap cangkir.
Selebaran itu. Selebaran yang ditinggalkan sembunyi-sembunyi di bawah pintu rumah orang-orang. Kertas kusut dengan huruf-huruf yang bicara soal harga beras, soal nasib buruh pabrik, dan soal mereka yang hilang tanpa pernah sempat berpamitan. Kabar burung atau bukan, semua orang tahu betul bahwa selebaran itu bisa jadi tiket menuju nasib yang tak keruan.
“Saya bilang sama Mbok Tun,” Bu Karsi melanjutkan dengan suara pelan, hampir berbisik. “Suruh dia buang saja kalau nemu. Jangan sampai ketahuan.”
Pak Darman mendongak. Ia menatap istrinya sejenak, lama, dengan mata yang entah menyimpan apa. Kemudian ia mengangguk lagi.
Di luar, anjing melolong jauh.
***
Orang-orang di kampung ini belajar bicara pelan. Kata-kata diucapkan seperti membagikan rahasia. Tidak boleh terlalu keras, jangan sampai melewati pagar bambu. Karena tembok di sini punya telinga, dan malam selalu lapar akan kabar baru.
Setelah salat isya di langgar, Pak Darman biasanya duduk sebentar di beranda. Matanya memperhatikan bayang-bayang di jalan setapak, mencari tanda-tanda sepatu lars yang berjalan beriringan. Ia tahu betul bagaimana bunyinya. Tepat jam dua malam, ketukan keras di pintu, dan dalam waktu yang lebih cepat dari tarikan napas, seseorang akan hilang.
Bukan rahasia lagi. Ini sudah biasa.
Sudah begitu sejak apa yang mereka sebut “penataan.”
Penataan yang membuat pasar jadi sepi, membuat orang-orang bicara dengan senyum yang kaku, dan membuat mata menunduk setiap kali mobil jeep hitam lewat di jalan utama.
“Mereka hanya mau ketertiban,” kata Lurah Parto beberapa bulan lalu.
“Kami sudah tertib,” jawab Pak Darman pendek.
Lurah Parto tertawa kecil. “Tidak cukup tertib.”
***
Pagi itu, Bu Karsi pulang dari pasar dengan wajah pucat.
“Ada apa?” tanya Pak Darman.
“Dik Darto…” Ia menelan ludah. “Tadi mayatnya dibawa pulang.”
Pak Darman diam. Ia tidak bertanya kenapa. Ia tidak perlu bertanya.
Kampung ini tahu. Kalau seseorang dibawa dan kembali dalam bentuk mayat, itu sudah penjelasan yang lengkap. Tidak ada yang berani bertanya lebih dari itu.
Setelah salat dzuhur, Pak Darman berjalan menuju rumah Darto. Ia berhenti di depan pagar bambu. Dari dalam rumah, suara tangis Bu Darto terdengar, tinggi, putus-putus, dan sesekali terhenti karena sesak di dada.
“Dia itu cuma tukang cat, Pak,” kata seseorang di samping Pak Darman.
Pak Darman menoleh. Itu Pak Margo, tetangga sebelah.
“Katanya bikin selebaran,” lanjut Pak Margo.
“Benar?”
“Entahlah.”
Lalu diam lagi. Seperti selalu, percakapan berhenti pada saat yang tepat. Terlalu banyak kata bisa mengantarkan maut.
***
Malam itu, di meja panjang yang sama, Pak Darman duduk dengan punggung yang agak bungkuk. Bu Karsi membawa teh hangat, meletakkannya di depan suaminya, tapi Pak Darman tidak menyentuhnya.
“Darto itu teman kecilmu, kan?” tanya Bu Karsi.
Pak Darman mengangguk.
“Kamu yakin bukan dia yang bikin selebaran?”
Pak Darman menatap istrinya. “Bukan dia.”
Bu Karsi mengangguk kecil, tapi wajahnya menyimpan sesuatu. “Kalau bukan dia… berarti orang lain?”
Pak Darman tidak menjawab.
Di luar, bayang-bayang malam makin gelap. Angin berdesir melewati daun pisang, dan entah kenapa malam ini lebih dingin dari biasanya.
***
Tiga hari setelah Darto dikuburkan, ada ketukan di pintu. Keras, terburu-buru.
Pak Darman membuka pintu dan mendapati Pak Margo berdiri dengan napas yang tersengal-sengal.
“Mereka cari kamu,” katanya.
“Siapa?”
“Orang-orang kota.”
Pak Darman diam. Ia tidak bertanya kenapa. Ia sudah tahu.
“Kertas itu… mereka bilang ada sidik jarinya.”
Pak Darman menghela napas panjang. Ia menatap ke luar, ke jalan setapak yang membentang sepi. Di kejauhan, suara sepatu lars menggema. Pelan, tapi pasti mendekat.
“Pergi, Pak,” desak Pak Margo.
“Tidak ada gunanya.”
Bu Karsi keluar dari dapur dengan wajah panik. “Pak, ayo kita sembunyi…”
Pak Darman menggeleng. “Sampai kapan mau sembunyi?”
***
Di meja panjang itu, Pak Darman duduk dengan punggung yang lurus. Tangannya menggenggam cangkir teh yang masih hangat. Di luar, suara ketukan semakin keras.
Bu Karsi menangis pelan di sudut ruangan.
“Apa yang kamu tulis di selebaran itu, Pak?” tanyanya lirih.
Pak Darman menatapnya. “Hanya kata-kata yang sudah kita semua tahu.”
“Tapi kenapa?”
“Karena tidak ada yang berani mengatakannya.”
***
Ketika pintu didobrak dan orang-orang berseragam masuk dengan wajah yang kaku, Pak Darman berdiri tanpa perlawanan. Ia dijemput seperti seseorang yang memang sudah menunggu sejak lama.
Malam itu, di meja panjang yang sama, teh di cangkir itu mendingin. Dan di luar, anjing melolong lagi.
Orang-orang di kampung ini tahu, jika seseorang dijemput di malam hari, ia akan hilang.
Dan seperti biasa, pagi akan datang lagi — dengan bunyi jangkrik, dengan angin yang membawa bau tanah basah, dan dengan dingin yang menusuk di sela-sela jari.
Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Meja panjang itu, kosong. Dan ketakutan, entah kenapa, menjadi lebih senyap dari sebelumnya.
Malam-malam berikutnya terasa lebih sunyi dari biasanya. Meja panjang di sudut ruangan itu tetap ada, tetap berdiri di bawah lampu minyak yang cahayanya bergetar samar. Tapi tanpa Pak Darman, meja itu seolah kehilangan napas.
Bu Karsi duduk di ujungnya. Di depannya, cangkir teh yang tak tersentuh mulai mendingin. Matanya sembab, tapi tidak ada air mata lagi yang jatuh. Tangis, ia tahu, tidak akan membawa suaminya pulang.
Di luar, langkah-langkah kaki terdengar pelan di atas jalan tanah. Pak Margo datang dengan wajah yang penuh cemas.
“Bu… saya dengar mereka bawa ke kota,” katanya sambil menunduk. “Mungkin belum terlambat kalau kita coba cari tahu.”
Bu Karsi tersenyum tipis. Senyum yang getir. “Cari tahu buat apa, Pak Margo? Kita semua tahu, yang pergi tidak akan kembali.”
“Tapi…”
“Sudah terlalu sering kita dengar cerita itu.”
Malam itu, tidak ada lagi yang bisa dikatakan. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian.
***
Kampung ini sudah kenyang dengan ketakutan. Dari kejauhan, selalu ada bayangan yang mengintai. Lurah Parto, dengan jeep hitamnya, masih sering berkeliling. Bukan untuk menyapa, tapi untuk memastikan semua kepala tetap menunduk.
“Ini semua demi ketertiban,” katanya berulang kali. Tapi ketertiban yang dipaksakan dengan rasa takut hanyalah senyap yang meledak di dalam dada.
Tiga hari setelah Pak Darman dibawa, ada kabar bahwa seseorang melihatnya di dalam truk besi, tangannya terikat, wajahnya lebam. Tapi kabar itu cepat menghilang, seperti kabar-kabar lainnya.
Bu Karsi tidak banyak bicara. Di pagi hari, ia tetap pergi ke pasar. Di siang hari, ia tetap menyapu halaman. Tapi malam harinya, ia akan duduk di meja panjang itu. Menunggu.
Tidak ada yang tahu apa yang ia tunggu.
***
Satu minggu berlalu. Selebaran itu muncul lagi. Kali ini bukan di bawah pintu, tapi di dinding langgar. Kata-katanya pendek, tapi tajam.
“Berapa lama lagi kita akan diam?”
Orang-orang hanya membaca sekilas, lalu menunduk pergi. Mereka tahu apa artinya. Mereka tahu siapa yang akan dicari berikutnya.
Pak Margo mengetuk pintu rumah Bu Karsi pada malam itu.
“Bu… selebaran itu…”
“Saya tahu.”
“Bu… itu bukan dari Pak Darman, kan?”
Bu Karsi menatapnya. “Kalau pun iya, apa yang bisa kita lakukan?”
Pak Margo terdiam. Mereka berdua tahu jawabannya. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu.
***
Malam berikutnya, ketukan keras di pintu datang lagi. Bukan pintu rumah Bu Karsi. Pintu rumah Pak Margo.
Orang-orang berdiri di balik jendela, menyaksikan dalam diam ketika dua orang berseragam menyeret Pak Margo keluar. Istrinya menangis histeris, tapi tidak ada yang berani keluar membantu.
Ketika pagi datang, Pak Margo sudah tidak ada. Dan tidak akan ada yang bertanya ke mana ia pergi.
***
Waktu berjalan pelan di kampung ini. Hari-hari berganti, tapi rasa takut tidak pernah benar-benar pergi.
Hingga suatu malam, lampu di meja panjang itu padam. Bukan karena angin, tapi karena minyaknya sengaja dihabiskan.
Bu Karsi berdiri di depan pintu rumahnya. Tubuhnya kecil, tapi malam itu ia berdiri tegak. Di tangannya, ada selembar kertas yang ia genggam erat.
Ia berjalan pelan ke arah langgar. Jalan setapak itu gelap, tapi kakinya tidak ragu. Di dinding langgar, di tempat yang sama dengan selebaran sebelumnya, ia menempelkan kertas itu.
Kita tidak diam. Kita hanya menunggu giliran.
***
Keesokan harinya, seluruh kampung membaca tulisan itu. Dan pagi itu, sesuatu berubah. Tidak ada yang tahu siapa yang menulisnya. Tidak ada yang bertanya.
Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, orang-orang mulai menatap mata satu sama lain.
***
Lurah Parto datang dengan jeep hitamnya.
“Malam ini kita akan periksa semua rumah,” katanya. “Kita harus tahu siapa yang menulis ini.”
Orang-orang mengangguk. Seperti biasa. Tapi malam itu, tidak ada ketukan di satu pintu pun.
Tidak ada teriakan. Tidak ada suara langkah sepatu lars. Hanya senyap. Karena kali ini, tidak ada yang bersuara.
***
Malam berikutnya, selebaran lain muncul.
“Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali ketakutan itu sendiri.”
Lurah Parto mulai marah.
“Siapa yang menulis ini?! Kalau tidak ada yang mengaku, kalian semua akan merasakan akibatnya!”
Tapi tidak ada yang mengaku. Karena kali ini, tidak ada yang tahu. Atau mungkin, terlalu banyak yang tahu.
***
Di meja panjang itu, Bu Karsi duduk sendirian. Tapi kali ini, ada senyum kecil di wajahnya. Di tangannya, selembar kertas baru sedang ia tulis.
“Tidak ada yang benar-benar hilang selama kita masih berani mengingat.”
Dan di luar, anjing melolong lagi. Bukan karena ketakutan. Tapi karena malam sedang berubah.
***
Malam terus berjalan. Pagi akan datang lagi — dengan bunyi jangkrik, dengan angin yang membawa bau tanah basah, dan dengan dingin yang menusuk di sela-sela jari.
Tapi kali ini, meja panjang itu tidak benar-benar kosong. Karena ketika ketakutan mulai dikalahkan, ingatan menjadi hidup. Dan Pak Darman, dengan kata-katanya, akan selalu ada di sana.