Baca! Bacalah duniasantri sebelum menulis untuknya.
Bagi seorang penulis, membaca justru lebih penting daripada menulis itu sendiri. Harus lebih banyak yang dibaca ketimbang yang ditulis.

Contoh terdekat yang sering kita abaikan, misalnya, kenapa pada satu disertasi atau buku, kepustakaannya bisa terdiri dari ratusan atau bahkan ribuan judul buku atau artikel. Artinya, seorang penulis untuk bisa melahirkan satu disertasi atau buku, harus melalui proses pembacaan terhadap sangat banyak bacaan. Jauh lebih banyak kata-kata yang dibaca ketimbang yang ditulis. Tanpa itu, tak lahir buku-buku atau tulisan bermutu. Orang selalu belajar pada apa yang lalu.
Karena itu, sekali lagi, bagi seorang penulis sejati, membaca justru jauh lebih penting ketimbang menulis itu sendiri. Kenapa? Kita akan segera kehilangan atau kehabisan frasa atau kata-kata bahkan ketika kita baru memulai menulis. Sebab tak ada pustaka dalam memori kita. Sebab tak muncul gagasan-gagasan baru sebagai buah dari proses berpikir kita. Bagaimana bisa berpikir bila dalam memori otak tak tersimpan kepustakaan pengetahuan yang menuntun kita dalam menulis.
Terhadap gejala seperti ini, anak-anak Gen Z akan menyebutnya dengan istilah “kurang piknik” atau “pikniknya kurang jauh”. Analogi itu pas buat orang yang nafsu menulisnya jauh lebih besar dibandingkan dengan ketekunannya untuk membaca. Membaca segala bacaan.
