Perjuangan Santri Membingkai Kemerdekaan

67 views

Sebentar lagi hari Kemerdekaan Republik Indonesia tiba. Berbagai prosesi penyambutannya sudah mulai dilakukan. Terlihat bendera di depan rumah gagah terpasang rapi. Namun, di balik kemeriahan menyambut hari kemerdekaan ada pelajaran penting yang bias kita ambil terutama dalam semangat perjuangan merebut dan kemerdekaan Indonesia.

Mereka yang ikut berperan dalam prosesi sejarah tersebut salah satunya adalah para santri, kiai, dan ulama. Ada banyak kisah heroik yang dilakukan oleh para santri dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah. Itu semua berawal dari pendidikan yang mereka dapatkan dari pondok pesantren

Advertisements

Salah seorang ulama besar dan paling berpengaruh bernama KH Hasyim Asy’ari. Pada 26 Rabiul Awal 1317 H (3 Agustus 1899) KH Hasyim Asy’ari berhasil mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Sejak mendirikan pesantren, dengan penuh semangat KH Hasyim Asy’ari menanamkan sikap antikolonialisme dan mengembangkan rasa nasionalisme kepada santrinya. Bahkan KH Hasyim Asy’ari pernah mengeluarkan fatwa haram untuk mengenakan pakaian seperti yang dipakai orang Belanda, karena itu pakaian orang kafir.

Kemudian hal yang sama juga dilakukan oleh KH Zainal Mustafa. Setelah berhasil mendirikan sebuah pesantren di daerah Singaparna pada  25 Februari 1944, dengan penuh kegigiahan KH Zainal Mustafa memimpin para santrinya melakukan perlawanan terhadap militer Jepang.

Pertempuran itu berawal saat Jepang memerintahkan masyarakat Indonesia melakukan Seikirei’,  yaitu sikap membungkuk ke arah Tokyo di pagi hari sebagai penghormatan terhadap Kaisar Jepang (Tenno Haika) dan pengakuan bahwa Kaisar Jepang adalah keturunan “Dewa Matahari” (Ameterasu).

Tindakan tersebut menurut ajaran Islam seperti yang disampaikan KH Zainal Mustafa merupakan perilaku syirik. Karena itu, KH Zainal Mustafa begitu menolak dan memilih memerangi para penjajah Jepang tersebut, hingga akhirnya terjadilah pertempuran. Dalam pertempuran itu banyak santri yang meninggal, dan KH Zainal Mustafa ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Pada saat itu memang sistem pendidikan yang diajarkan setiap pondok pesantren tidak hanya soal keagamaan dan hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan juga menyentuh persoalan yang dialami masyarakat saat itu. Kondisi masyarakat yang terjajah membuat semangat para santri semakin meningkat untuk mengambil peran membantu masyarakat agar keluar dari kondisi terjajah menuju kondisi berdaulat atau merdeka. Oleh karenanya, berbagai upaya terus dilakukan agar terwujud kemerdekaan.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan