Di media sosial, istilah self reward terasa sangat akrab di telinga anak muda. Contohnya, dalam momen setelah ujian, mereka membeli kopi mahal. Setelah proyek rampung, mereka memesan makanan favorit. Setelah melewati hari yang melelahkan, mereka pergi healing ke pantai atau gunung. Semua itu disebut sebagai self reward.
Self reward dipahami sebagai cara menghargai diri atas usaha yang telah dilakukan. Ia menjadi bahasa baru untuk merawat kesehatan mental dan menjaga semangat hidup di tengah tekanan zaman yang bergerak cepat.

Generasi Z tumbuh dalam dunia yang penuh tuntutan seperti ini: standar sukses hadir setiap hari melalui layar gawai. Pencapaian orang lain tampil tanpa henti. Perbandingan sosial sulit dihindari. Dalam situasi seperti itu, self reward tampak sebagai ruang kecil untuk bernapas. Ia memberi jeda dan memberi rasa bahwa diri ini layak dihargai. Dalam kacamata psikologi modern, tindakan ini bisa dibaca sebagai strategi regulasi emosi. Seseorang memberi penguatan positif agar dirinya tetap termotivasi dan tidak tenggelam dalam stres.
Namun pertanyaan penting muncul, apakah self reward sungguh menjadi bentuk perayaan diri yang sehat atau sekadar cara halus untuk lari dari kegelisahan yang lebih dalam.
Psikologi agama mengajak kita melihat praktik ini dari dimensi batin yang lebih luas. Manusia tidak hanya makhluk yang mencari kesenangan. Ia juga makhluk yang mencari makna. Ia ingin merasa bernilai di hadapan dirinya dan di hadapan Tuhan.
Dalam perspektif Viktor Frankl, manusia terdorong oleh kehendak untuk menemukan makna. Ketika hidup terasa hampa, orang cenderung mencari pengisi kekosongan. Kadang dengan mengejar kesibukan, mengejar sensasi, atau membeli pengalaman baru agar merasa hidupnya bergerak.
