10.000 Tulisan Santri: Andai Semua Layak Rilis…

Jumat (25/9/2026) pagi ini, dashboard redaksi duniasantri.co merekam: naskah terbaru kiriman dari santri masuk. Pada data tertera angka 10.000. Itu artinya, naskah tulisan santri yang masuk ke redaksi duniasantri sudah mencapai 10.000!

Apa pun nanti penjelasannya, 10.000 itu merupakan angka yang fantastis, lebih-lebih untuk jumlah tulisan. Angka itu, dengan sendirinya, menggambarkan tingkat kegairahan dan produkitvitas santri dalam berliterasi, terutama menulis. Jika direrata berdasarkan usia duniasantri yang mencapai 7 tahun, maka tiap tahun diproduksi lebih dari 1.4000 tulisan. Atau, sekitar 120 tulisan per bulan dan 4 tulisan per hari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Jumat ini pula, jumlah akun penulis di web duniasantri sudah menembus angka 4.000. Persisnya 4.115! Ribuan pemilik akun penulis tersebut tersebar di berbagai wiyalah di Nusantara ini, mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, Madura, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Flores, hingga Papua. Bahkan tak sedikit yang tinggal di berbagai negara lain. Mayoritas dari mereka adalah santri atau alumni pesantren. Hanya sedikit yang latar belakang pendidikannya berbeda.

Kita bisa membayangkan bagaimana kesibukan mereka dalam bergumul dengan ikhtiar kepenulisan. Mungkin ada yang merenung-renung di bilik pesantren atau di pojokan masjid. Mungkin ada yang membuka-buka buku atau kitab di perspustakaan. Mungkin ada yang berdiskusi dengan teman atau pacar untuk bertukar gagasan. Mungkin ada yang meminjam laptop temannya untuk menuliskan ide. Mungkin ada yang sibuk menyusun prompt agar mesin cerdas memberikan contoh tulisan yang bagus. Mungkin ada yang bertawasul agar sanad keilmuan yang dituliskannya tetap terjaga. Dan mereka mengirimkan tulisannya dengan harap-harap cemas. Dan masih ada seribu kemungkinan lagi, termasuk yang menggerutu atau merutuk kenapa tulisannya belum pernah ada yang dirilis.

Ya, begitulah. Sayangnya tidak semua tulisan yang masuk redaksi memenuhi kriteria untuk dirilis, diterbitkan. Sampai tulisan ini disiapkan, yang diterbitkan mencapai 5.252 tulisan. Atau sekitar 52 persen dari seluruh yang naskah yang masuk. Macam-macam sebab kenapa hampir separo dari naskah yang terkirim tersebut tak laik rilis.

Mungkin cara penulisannya yang memang masih buruk. Mungkin datanya yang lemah atau faktanya terlupa. Mungkin argumentasinya tidak kokoh atau teorinya tidak ada. Mungkin nada tulisannya terlalu menggurui. Mungkin malah terlalu banyak ayat dan dalilnya ketimbang penguraian fakta atau fenomena yang diangkat dalam tulisan. Mungkin ceritanya yang tak menarik atau tak masuk akal sebagai sebuah cerita. Mungkin yang terkirim puisi yang bukan puisi. Dan mungkin masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Tapi, apa pun, duniasantri tetap memberi apresiasi yang tinggi terhadap semua tulisan yang dikategorikan tidak memenuhi kriteria untuk dirilis itu. Ribuan tulisan itu tetap tersimpan rapi di dashboard, dan tidak pernah di-delete. Tidak pernah ada niatan dari redaksi untuk menghapusnya agar beban penyimpanan data berkurang, misalnya. Tidak. Ribuan tulisan itu adalah permata yang harus tetap dijaga dengan baik. Mereka adalah bagian dari khazanah keilmuan yang, kelak, zaman akan membutuhkannya. Kita tak pernah tahu semuanya. Kita tak pernah tahu bagaimana akhirnya.

Dari data ini, untuk sementara, baru bisa dilakukan dengan dua pembacaan. Pertama, seperti disinggung awal tulisan, angka 10.000 itu menunjukkan betapa tinggi gairah dan produktivitas penulisan di kalangan santri. Tentu saja ini sangat menggembirakan di tengah disrupsi era digital yang begitu memabukkan ini. Ternyata masih banyak santri yang terus tekun, istikamah, dalam berpikir kritis dan sistematis, untuk bisa melahirkan sebuah tulisan. Banyak tulisan.

Kedua, di saat yang sama, harus diakui masih banyak kelemahan dan kekurangan di lingkungan santri dalam hal kepenulisan. Itulah yang harus dibenahi. Tunas-tunas yang tumbuh belum sempurna itu harus terus dijaga, dirawat, agar mengalami pertumbuhan dan perkembangan seperti seharusnya. Jangan sampai tunas-tunas itu pupus sebelum kembang.

Kita sama-sama punya keinginan: semua tulisan yang terkirim bisa dirilis. Tapi rupanya memang masih diperlukan riadat (riyadhah) yang lebih kuat dan ketat lagi dalam bidang penulisan. Dengan riadat kepenulisan, akan muncul semakin banyak tulisan yang bermutu, yang bisa mencerahi zaman. Sebab, itulah kunci membuka pintu peradaban. Dan dari sejarah kita tahu, kemajuan selalu diawali dengan pembacaan dan penulisan, bukan omon-omon…

Jadi, mari lebih giat riadat menulis.

Tinggalkan Balasan