Yang pertama tentu saja penguasaan pada topik yang dipilih. Karena latar belakang mereka memang santri murni, penguasaan terhadap ilmu-ilmu keislaman lebih mendalam, lebih komprehensif, dan justru tidak tekstual atau textbook jika dibandingkan, misalnya, dengan mereka yang belajar di perguruan tinggi Islam namun tak memiliki latar belakang pesantren. Pendek kata, pemikiran mereka lebih progresif.
Yang kedua, daya jelajah atau kemauan eksplorasi intelektual mereka cakupannya sangat luas. Topik-topik yang coba mereka tulis tidak melulu soal keislaman dan tradisi kepesantrenan. Mereka juga mencoba meneropong “dunia luar” atau “dunia lain” dari kacamata dan pola pikir santri. Jejak itu bisa kita baca pada tulisan-tulisan santri yang telah dirilis di duniasantri.co.

Yang ketiga, banyak pemikiran-pemikiran kritis, radiks, dan yang menyuguhkan kabaruan atau gairah baru dalam keilmuan, muncul dari kelompok “santri murni”. Bahkan, banyak pemikiran “nakal”, juga “liar”, dari mereka, yang bisa membongkar kejumudan berpikir. Intellectual exercise juga banyak muncul dari mereka, dari orang-orang yang tekun belajar di pesantren.
Berdasarkan pembacaan tersebut, rasanya tak berlebihan kalau saya sangat optimistis terhadap masa depan dunia santri, pesantren, dan santri-santri generasi mendatang. Sekaligus, ini juga membuktikan bahwa tradisi keilmuan dan intelektual di lingkungan pesantren masih ajek dan jejek, terjaga dengan baik.

Catatan yang sangat menarik. Paragraf terakhir tentu adalah harapan kita semua sebagai santri.
Tentu menjadi harapan kita semua, bahwa duniasantri.co ke depan semakin memiliki kulitas, senyampang kuantitas dari hari ke hari semakin bertambah. Keseimbangan kuantitas dan kualitas merupakan keharusan agar para penulis (santri aktif) tidak terjebak oleh kemandekan ide dalam berkreatifitas. Hee,,, saporana…