Belakangan ini, jagat media sosial ramai oleh figur yang disebut “Gus El”. Namanya melesat cepat—bukan karena karya tulis, bukan karena kitab yang dikaji, tapi karena video-video yang viral.
Di era algoritma, popularitas memang tidak lahir dari kedalaman, tapi dari keberanian untuk tampil. Dan seperti biasa, masyarakat pun terbelah: sebagian membela dengan fanatik, sebagian lagi menghujat dengan beringas.

Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang santri yang masih berjuang memahami makna adab dan ilmu. Tapi justru dari pinggiran pesantren ini, fenomena seperti Gus El menarik untuk dibaca. Sebab ia bukan sekadar kasus individu; ia adalah cermin dari transformasi otoritas keagamaan di era digital. Kita hidup di zaman ketika “Gus” bukan lagi panggilan yang menuntut tanggung jawab moral, tapi bisa berubah jadi label dagang.
Gelar yang dulu sakral, kini mudah sekali ditarik ke pasar. Di layar ponsel, otoritas ulama direduksi menjadi performa. Ceramah bergeser menjadi konten. Dakwah menjadi tontonan. Yang dinilai bukan lagi isi, tapi gaya; bukan hikmah, tapi reaksi. Di titik inilah, agama kehilangan gravitasinya, tergantikan oleh sensasi.
