Macapat Maduratna, Manuskrip Religi dari Sumenep

Sebaran manuskrip di kawasan Madura, terutama di Sumenep, dari tahun ke tahun terus mengalami pengurangan. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian, baik dari masyarakat maupun oleh pemilik manuskrip itu sendiri. Padahal, di dalamnya terdapat khazanah keilmuan yang luar biasa berharga untuk bidang kajian keilmuan, mulai dari ilmu tauhid, nahu, fikih, tasawuf , tafsir, hingga sastra.

Manuskrip yang penulis temukan ini adalah karya sastra dengan judul Macapat Maduratna. Merunut sejarah macapat, di Sumenep pada periode 1998-2001 diadakan kompolan macapat  hampir setiap malam di berbagai desa, seperti Desa Poreh, Sendir Medelan, dan Daramista. Namun, mulai setelah tahun 2001 sampai sekarang, kompolan ini mengalami kemerosotan. Hampir-hampir kompolan ini sudah tidak eksis lagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kitab Macapat Maduratna dimiliki oleh Asmuni, tokoh masyarakat Desa Lenteng Timur, Kabupaten Sumenep. Sehari-hari, Asmuni dikenal sebagai salah satu tokoh kajih di desanya, yang bekerja sebagai petani sekaligus pedagang. Selain itu, Asmuni aktif di berbagai pengajian, baik kompolan bulanan ataupun mingguan.

Siapa penyalin atau juru tulis dalam naskah Macapat Maduratna ini tidak diketahui. Sebab, tidak ada nama yang tertera sebagai juru tulis atau penyalin pada naskah ini. Namun, di bagian awal naskah tertulis nama yang menyepuhi, eseppoe atau ekatoae dari Macapat  Maduratna ini, yaitu Khatib. Khatib merupakan seorang tokoh di Kecamatan Lenteng. Ada sebagian informasi yang menyatakan bahwa penyalin naskah tembang Macapat Maduratna ditulis ulang oleh Khatib  sekitar tahun 2010.

Sejarah Kepemilikan

Berdasarkan penelusuran, pemilik dari naskah ini adalah Syaiful Bahri yang juga bermukim di daerah Lenteng, Sumenep, Madura. Mengenai sejarah atau asal usul dari naskah Macapat Maduratna ini, penulis meminjam kepada Syaiful Bahri.

Diceritakan, naskah ini ditulis di Lenteng. Beberapa tahun yang lalu, di sekitar tempat peminjaman naskah yang penulis dapati, memang ada salah satu tokoh yang bernama Ustaz Saulla. Ustaz Saulla pernah mengikuti pembacaan macapat. Bahkan Ustaz Saulla, menurut Ustaz Wasil, merupakan salah satu pembaca tembang macapat. Kebetulan, kediaman beliau Ustaz Saulla dengan rumah Syaiful Bahri yang menjadi wasilah untuk mendapatkan naskah Macapat Maduratna tersebut.

Topik Manuskrip

Topik bahasan dalam naskah Macapat Maduratna ini beragam. Kita awali dengan kutipan naskah dengan terjemahan:

“Para hadirin dan para saudara yang sama dimuliakan dan para pendegar yang penulis muliakan, sebelumnya penulis ingin mengaturkan salam.”

Setelah ungkapan tersebut, maka di bawahnya tertulis salam, yang diteruskan dengan topik tulisan yang selanjutnya sampai ke bawah, dengan bentuk tulisan Arab:

“Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Bismillah alhamdulillah, dengan menyebut nama Allah segala puji bagi Allah, penulis merasa berkewajiban memanjatkan puja-puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, yang di mana penulis dengan kalian semua diberikan pahala (karunia), sembuh (sehat), dan selamat, hingga di saat malam ini bisa bertemu di tempat ini dalam keadaan sempurna.”

“Hadirin yang penulis muliakan sebelum pembacaan Macapat Maduratna yang disepuhi oleh saudara Khatib, fa’tin sebelum dimulai, lebih sebelumnya terima kasih kepada kepala desa, yang telah sudi memberikan izin untuk menghibur dalam pesta perkawinan di saat malam ini.”

“Dan tak lupa pula terima kasih kepada tuan rumah sekeluarga, yang sudah mau (rela) mengundang kumpulan Macapat Maduratna ini, dan juga yang sudah menyediakan tempat yang sangat sempurna ini.”

Beberapa bacaan tersebut merupakah hasil kajian penulis di bagian awal naskah Macapat Maduratna, yang diterjemah kedalam Bahasa Indonesia.

2 Replies to “Macapat Maduratna, Manuskrip Religi dari Sumenep”

Tinggalkan Balasan