Kutipan halaman akhir dari naskah Macapat Maduratna ini, yang penulis ambil di halaman terakhir. Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti berikut:
“Tammat, …. Sabtu tanggal dua/2, bulan Surah (Sorah), tanggal sembilan belas/19, bulan Juli. Jam setengah empat/03.30 (waktu malam atau sore, penulis tidak tahu), sepuluh tahun.

“Lenteng Timur, Kampung Samondung, Kabupaten Sumenep, Madura.
A s m u n i (nama orang, penulis).”
Beberapa bacaan tersebut, merupakah hasil di antara teks bacaan yang dapat penulis kaji di bagian akhir naskah Macapat Maduratna ini, yang penulis terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Kondisi Manuskrip
Dalam kajian filologi, jenis kertas dalam kitab manuskrip terdiri dari beberapa jenis kertas, seperti kertas eropa dan kertas daluwang. Ada juga naskah yang ditulis pada bambu, daun lontar, kemudian lontarak bugis. Ada juga yang ditulis di kayu. Begitu juga ada yang ditulis di sebuah tulang dan tanduk hewan. Namun dalam naskah Macapat Maduratna ini, jenis kertasnya berupa lontarak bugis.
Iluminasi merupakan gambar di awal naskah, yang biasanya dalam bentuk ukiran kaligrafi sebagai suatu ilustrasi seni dalam naskah tersebut. Setelah penulis lihat, dalam naskah Macapat Maduratna ini, di dalamnya tidak ada iluminasinya di awal naskah.
Setelah penulis teliti dalam naskah Macapat Maduratna ini, kondisi naskahnya masih dalam kedaan utuh. Naskah ini masih ada dan masih dapat dibaca. Tidak sedikit pun dari lembarannya yang kurang.
Lembar naskah maksudnya ada berapa halaman dalam naskah itu, dan kuras maksudnya kertas yang telah dicetak dan sudah dilipat sedikitnya dua kali. Ini merupakan bagian dari buku, biasanya terdapat huruf atau angka pada bagian bawah halaman pertama, sebagai pedoman dari penjilidan, dan juga ada berapa lembarkah setiap perkurasnya.
Setelah penulis amati dalam naskah Macapat Maduratna ini, lembar naskah terdiri dari 93 halaman. Dalam naskah ini sebenarnya tidak ada halaman khusus yang tertulis di dalamnya. Jumlah itu hanya menurut hitungan saja dalam setiap lembar yang terisi teks tulisan Macapat Maduratna ini.
Dan kurasnya terdiri dari tiga kuras, setiap kuras dalam naskah ini ada yang tidak sama jumlahnya: Misalnya, kuras pertama terdiri dari 20 lembar, kuras kedua terdiri dari 20 lembar, kuras ketiga terdiri dari 5 lembar.
Ukuran naskah merupakan ukuran kertas naskah, diukur dari panjang dan lebarnya; ke samping adalah lebar naskah, ke bawah adalah panjang naskah. Setelah penulis ukur, kertas naskah Macapat Maduratna ini lebarnya 17 cm dan panjangnya 22 cm. Dengan ukuran kertas seperti itu, ukuran teks tulisan yang ke samping 12-1 per 3 senti (C), dan jumlah teks tulisan ke bawah sebanyak 11 baris.
Sesuai dengan pengamatan, naskah Macapat Maduratna ini tidak menggunakan kata alihan. Kata alihan merupakan sesuatu menghubungkan suatu topik ke topik yang selanjutnya, yang biasanya didapat ketika pindahnya suatu halaman ke halaman berikutnya yang ditandai dengan kalimat atau huruf dibagian bawah halaman. Di sini tidak ada.
Biasanya, dalam naskah manuskrip kuno, rubrikasi merupakan tanda tulisan warna merah, yang biasanya digunakan sebagai tanda jeda dari bacaan itu, baik bentuk titik maupun koma. Setelah penulis kaji di beberapa halaman isi naskah Macapat Maduratna ini, tanda rubrikasi yang tertera di dalamnya ternyata ada. Tandanya pun juga ditandai dengan warna merah, yang mungkin juga digunakan sebagai tanda jeda dalam pembacaan macapat tersebut.
Isi Manuskrip

Dahsyat, begitu lengkap,,,
semoga terus berkarya bapak rusdi