Ada Apa dengan Pesantren Kita

Kasus kematian santri Albar Mahdi ini sesungguhnya bukan melulu tentang Pondok Gontor, dan tulisan ini juga tak bermaksud untuk menyorot salah satu pesantren terbesar di Indonesia ini. Sebab, kekerasan yang menimpa Albar Mahdi bukanlah kasus pertama yang dialami santri, dan boleh jadi bukan pula yang terakhir.

Akhir-akhir ini, suka tidak suka, wajah pesantren secara umum ternoda oleh berita-berita negatif yang dimuat di berbagai media, baik media massa maupun media sosial. Dan trennya terus meningkat. Berita-berita negatif itu setidaknya meliputi tiga tindak kejahatan, yaitu perundungan (bullying), kekerasan fisik (yang membahayakan keselamatan jiwa), dan kekerasan/pelecehan seksual yang terjadi di sejumlah pesantren di berbagai daerah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita belum tahu persis datanya, dan untuk itu masih diperlukan adanya riset khusus. Tapi, dari tren pemberitaan media yang terus meningkat tentang perundungan, kekerasan fisik, dan kekerasan/pelecehan seksual yang terjadi di banyak lingkungan pesantren itu seharusnya sudah cukup untuk menjadi early warning. Sudah cukup sebagai peringatan dini bagi seluruh pemangku kepentingan (stake holders) pondok pesantren untuk introspeksi, untuk melakukan kajian-kajian, agar sedini mungkin bisa dilakukan perbaikan, agar nilai-nilai luhur pesantren tidak luntur.

Sebenarnya sudah agak lama saya sendiri mulai risau terhadap perkembangan banyak pesantren di tanah air dalam beberapa tahun terakhir. Ada beberapa fenomena yang bisa disebut, tapi fenomena-fenomena itu bisa dikerucutkan menjadi satu kesimpulan dini: banyak pondok pesantren yang nyaris tak ada beda dengan sekolah-sekolah umum, juga sekolah-sekolah umum berasrama (boarding school).

Salah satu contoh kecilnya adalah dari segi biaya. Berbeda dengan zaman dulu, biaya nyantri saat ini tak beda, bahkan banyak yang lebih mahal, dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum. Jadi santri pun saat ini begitu “dimanja”.

Ada gejala “komersialisasi pendidikan” yang merasuki dunia pesantren. Dengan biaya yang mahal, tugas santri tinggal belajar, karena seluruh kebutuhan lain telah dipersiapkan oleh pihak pondok. Di pondok sudah ada tukang cuci pakaian, sudah ada katering, misalnya. Menjadi santri tak perlu lagi memasak sendiri, tak perlu lagi mencuci pakaian sendiri. Persis seperti sindiran Inaya Wahid dalam Monolog Negeri Sarung: pondok seperti tempat penitipan anak! Pesantren menjadi perusahaan jasanya.

Dari contoh ini saja, terlihat bahwa bobot nilai luhur pendidikan karakter atau kepribadian di lingkungan pesantren sudah mulai berkurang. Padahal, memasak sendiri atau mencuci pakaian sendiri bersama sesama santri lain sesungguhnya adalah bagian penting dari proses pendidikan di pesantren. Mengelola properti sendiri di bilik-bilik pondok yang ditempati bersama santri-santri lain adalah bagian penting dari proses pendidikan di pesantren. Darinya nilai-nilai kemandirian hidup dan kebersamaan diserap, dipelajari, dijalani. Di sini saya lebih suka menyebut pesantren sebagai sekolah kehidupan ketimbang tempat mencari ilmu.

Contoh lain adalah fenomena semakin banyaknya pondok pesantren membuka cabang di mana-mana. Pondok pesantren akan terlihat lebih wah, megah, bonafid, jika jumlah santrinya mencapai puluhan ribu dan cabangnya ada di seantero negeri. Terkesan ada persaingan antarpesantren dalam “melebarkan sayap”, membuka cabang sebanyak-banyaknya.

Tinggalkan Balasan