Akankah Tradisi Keilmuan di Pesantren Tergeser?

Ada pula dimensi psikologis yang perlu dicermati. Kajian online sering kali memberikan ilusi kedekatan dengan ilmu. Penonton merasa “ikut kajian” padahal tidak benar-benar terlibat. Tidak ada tuntutan untuk mencatat, mengulang, atau diuji pemahamannya. Ilmu menjadi sesuatu yang dikonsumsi sambil lalu, bukan sesuatu yang diperjuangkan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat melemahkan etos belajar.

Namun, menolak kajian online secara total juga bukan solusi. Dunia telah berubah, dan pesantren tidak hidup di luar realitas sosial. Tantangannya bukan memilih antara kajian online atau tradisi pesantren, melainkan bagaimana mengintegrasikan keduanya secara kritis. Pesantren perlu hadir di ruang digital tanpa kehilangan ruh keilmuannya. Bukan sekadar memindahkan ceramah ke layar, tetapi membawa metodologi berpikir pesantren ke dalam format yang baru.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Integrasi ini menuntut kesadaran bahwa tidak semua hal bisa didigitalisasi. Relasi guru-murid, pembentukan karakter, dan pendalaman metodologis tetap membutuhkan ruang fisik dan kebersamaan. Kajian online dapat memperluas jangkauan, tetapi tidak boleh menggantikan proses inti. Dengan kata lain, kajian online harus berada di pinggiran, bukan di pusat tradisi keilmuan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang apakah kajian online akan menggeser tradisi pesantren bukanlah soal masa depan teknologi, melainkan soal sikap kita hari ini. Jika kajian online dibiarkan berjalan tanpa kritik, ia berpotensi mereduksi agama menjadi tontonan. Namun, jika dikelola dengan kesadaran epistemik dan etika, ia dapat menjadi jembatan antara tradisi dan zaman.

Pesantren, dengan segala keterbatasannya, memiliki modal besar untuk menghadapi tantangan ini: tradisi keilmuan yang matang, etika belajar yang kuat, dan komunitas yang hidup. Kajian online tidak perlu ditakuti, tetapi juga tidak boleh dimutlakkan. Ia hanyalah alat. Sementara ilmu, sebagaimana diajarkan dalam tradisi Islam, tetap menuntut kesungguhan, kerendahan hati, dan kesabaran.

Tinggalkan Balasan