Aktivitas yang Dirindukan Ketika Ramadan

Subjudul berikutnya yang berkaitan dengan Ramadan adalah Yang Dirindukan dari Bulan Ramadan. Dalam tulisan tersebut, penulis mengurai empat hal yang dirindukan dari bulan Ramadan.

Pertama, warga mendadak berbondong-bondong datang ke masjid atau musala untuk menunaikan salat Isya dan salat sunah Tarawih secara berjamaah. Bagi saya, ini merupakan sebuah fenomena yang sangat bagus bila terus dilanjutkan pada selain bulan Ramadan (hlm. 121).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fenomena yang bersifat tahunan ini, tentu sangatlah positif. Warga yang semula tampak acuh tak acuh dengan hal-hal bersifat religius atau bernilai ibadah, tiba-tiba berubah menjadi begitu peduli dengan cara ikut meramaikan ibadah salat sunah tarawih di masjid dan musala. Sayangnya, euforia menyambut bulan suci biasanya hanya sementara. Berlangsung hanya beberapa minggu. Setelahnya masjid dan musala tampak begitu lengang, terlebih ketika berada di penghujung bulan suci Ramadan, karena biasanya mereka akan terlihat lebih sibuk menyiapkan beragam jenis keperluan guna menyambut hari yang tidak kalah sakral, yaitu hari lebaran.

Kedua, usai salat tarawih, sebagian warga biasanya berkumpul di masjid atau musala untuk melakukan tadarusan; membaca Al-Qur’an secara bergantian (hlm. 122). Selama menunggu giliran, dalam aktivitas tadarus ini biasanya mereka bersama-sama menyimak temannya yang tengah membaca Al-Qur’an, dan kadang ikut membetulkan ayat-ayat yang salah saat melafazkan atau mengucapkan makhrajnya.

Berhubungan dengan tadarus ini, ia membahasnya lebih dalam. Ia berharap hendaknya volume toa saat tadarus lebih diperkecil, jangan terlalu kencang sehingga bisa mengganggu kenyamanan masyarakat sekitarnya yang tengah beristirahat. Pun durasi waktu. Ia berharap hendaknya jangan sampai terlalu malam. Selain dapat mengganggu kenyamanan sekitar, juga agar tak telat bangun saat makan sahur.

Untuk memperkuat pernyataannya tersebut, penulis mengutip NU Online (21/02/2018) yang menguraikan panjang lebar terkait tadarus Al-Qur’an menggunakan toa bervolume tinggi di masjid. Membaca Al-Qur’an atau berzikir dengan pengeras suara tentu boleh-boleh saja, tetapi jangan sampai terlalu lama sehingga menyebabkan terjadinya “polusi udara” atau sampai membuat warga masyarakat terganggu karenanya (hlm. 123).

Tinggalkan Balasan