Pesantren pada umumnya, adalah tempat santri menimba kaidah-kaidah khazanah keilmuan. Seperti halnya yang dicita-citakan oleh Kiai Husamuddin dulu. Beliau merupakan pendiri Pondok pesantren Miftahul Huda atau yang lebih dikenal dengan Al-Huda yang mendapat apresiasi esensial serta dukungan penuh dari masyarakat sekitar. Hingga sampai suatu ketika beliau mampu mendirikan madrasah formal dari PAUD hingga Madrasah Aliyah berkat doa dan perjuangan yang tak pernah hilang dari jiwanya.
Banyak perjuangan yang Kiai Husamuddin lakukan semasa hidupnya. Di antaranya mendirikan pondok pesantren tempat saya dulu belajar menjadi santri. Sepulang dari perkumpulan yang beliau hadiri secara terus menerus. Berjuang habis-habisan untuk membangun lembaga formal, dicangkul sendiri, bahkan sampai larut malam beliau lakukan, kadang-kadang ditemani sebagian santrinya.

Ada hal yang tak habis pikir dari sibuknya menghadiri berdakwah dari desa ke desa lain. Pembaca bisa membayangkan bahwa jumlah hari selama seminggu dari perkumpulan yang beliau hadiri justru lebih banyak perkumpulan yang beliau ikuti. Satu malam kadang dua tempat yang beliau hadiri yang jarak tempuhnya lebih dari 10 km dengan dilalui berjalan kaki. Tapi semua itu beliau biasa lakukan dengan rasa kesabaran disertai rasa penuh tanggung jawab.
Ini tentu menjadi pembelajaran yang substansial bagi kita untuk ditiru jejak perjuangan beliau yang masih sedia memikirkan masyarakat sekitar yang rata-rata buta huruf meskipun hanya menyisakan waktunya di sela-sela kesibukannya berinteraksi melakoni dakwah sosiokultural yang beliau lakukan secara konsisten dari satu tempat ke tempat yang lain.
Sepulang Kiai Husamuddin, Pondok Pesantren Miftahul Huda diasuh oleh Almarhum KH Hanif Abdullah yang banyak meninggalkan perubahan-perubahan menarik yang selama itu juga ikut andil merintis pembangunan pendidikan formal semasa hidup Kiai Husamuddin. Hingga baru-baru ini, Pondok Pesantren Miftahul Huda diasuh oleh KH M Mukhktar (adik dari KH Hanif Abdullah).
Selama KH M Mukhtar menjadi pengasuh sudah mempunyai relasi yang begitu kuat dengan Kemnaker (Kementrian Ketenaga Kerjaan) dalam menjaga dan mengemban kepercayaan amanah yang luar biasa. Amanah ini berupa diberikan kepercayaan membangun gedung multimedia. Saya pikir ini juga menjadi tanggung jawab saya sebagai abdi pesantren untuk terus melakukan perubahan-perubahan sosial dan pendekatan-pendekatan secara emosional kepada kaum milenial di zaman 4.0 ini. Tidak hanya membangun relasi dengan Kemnaker, KH M Mukhtar di sela-sela kesibukannya juga sama dengan Kiai Husamudin, yakni berdakwah melalui perkumpulan-perkumpulan.
Selain itu, Pondok Pesantren Miftahul Huda sudah mempunyai banyak aset. Di antaranya ada kebun kelapa, odong-odong, koperasi siswa yang tentu tetap di bawah naungan Yayasan Miftahul Huda. Ini yang saya pikir merupakan barokah murni dari pendiri. Berkat doa dan kesabaran itulah pondok pesantren masih terjaga dengan indah. Masih asri sepanjang hari.

Trima kasih duniasantri.co