Al-Luma menghadirkan narasi tentang mengapa seseorang harus mengimani keberadaan Allah yang Maha Esa. Hal ini disebabkan banyaknya orang-orang orientalis yang membelokkan pemahaman akan wujud Tuhan. Bahkan sampai kepada taraf tiada Tuhan di alam semesta. “Manusia berada pada puncak kesempurnaan, sebelumnya berupa nuftah, lalu bermetamorfosa menjadi segumpal darah; berarti hal itu lebih jelas menunjukkan akan adanya pembuat dan mengubahnya dari satu kondisi ke dalam kondisi lain”. (hlm 4-5)
Peniadaan Tuhan dalam kaca mata kelompok-kelompok orientalis bersumber dari pemikiran kesempurnaan manusia. Bahwa, taraf kemanusiaan yang sudah sempurna ketika telah mencapai keadilan dan beradab. Artinya, manusia yang dimodifikasi oleh Tuhan secara sempurna telah menisbatkan dirinya ke dalam lubang kekufuran. Lebih parahnya, pembuatannya yang melibatkan Tuhan atas awal penciptaan tidak bisa direnungi kembali.

Sejak abad pertama Islam, dua kutub terbesar yang saling bertolak belakang, memberikan “paham” mudah dicerna untuk mengetahui peran manusia-Tuhan. Kelompok Muktazilah sangat percaya pada hukum kausalitas yang dapat dikendalikan sepenuhnya oleh manusia. Bentuk ikhtiar ini menjadikan mereka berasumsi bahwa urusan manusia tidak ada kaitannya dengan campur tangan Tuhan
Lain halnya dengan takdir. Secara umum manusia memiliki garis takdir yang tentu tidak sama. Dari sekian ribu jumlah umat manusia, mesti paham ada yang mengatur di balik masalah hidup baik masa lalu, kini dan nanti. Pengertian ini menandakan adanya keberadaan Tuhan yang terkadang tidak disadari oleh manusia.
Manusia sangat percaya kepada konsep kekuasaan dan haknya, sehingga segala bentuk tindakan yang mengatasnamakan kehendak bersumber dari dirinya sendiri. Padahal, hasil akhir dari suatu tindakan sangat dibarengi peranan takdir Ilah. Ketika suatu upaya (kasb) menjadi dalil yang menunjukkan pelaku perbuatan itu secara hakiki adalag pihak yang melakukan upaya tersebut (muktasib). “Ketika pembalasan dijatuhkan terhadap perbuatan mereka, berarti Dialah yang menjadi pencipta segala perbuatan mereka”. (hlm 84)
