Keberagamaan dan keberagaman adalah fakta sosial yang terjadi. Bahwa di Nusantara ini sangat beragam agamanya, sukunya, budayanya, dan bangsanya. Oleh sebab itu, terlepas dari hukum syariatnya, bahwa arca yang ada di Taman MWC NU Sumbermanjing menyimpan sejarah yang patut diulik dan dihormati keberadaannya. Perkara iman, hal ini kembali kepada masalah personal, namun perkara menghormati keberagaman adalah bagian dari upaya menjaga kemanusiaan dan cinta itu sendiri.
Dalam ajaran Hindu, Dewi Parwati diyakini sebagai Cakti, atau bagian dari Siwa. Kalau Siwa adalah Energi maka Parwati adalah Kekuatan yang mendorong terciptanya kreativitas yang maksimal. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa Dewi Parwati adalah kisah cinta sang Siwa. Ia adalah Inkarnasi Dewi Sati yang mana juga menjadi inkarnasi dari Dewi Shakti permaisuri Dewa Siwa.

Terlepas dari kisah Dewa Siwa dan Dewi Parwati, apa yang penulis temui, peristiwa yang terjadi, yaitu terkait adanya Arca di Depan Gedung MWC NU Sumbermanjing Wetan adalah bukti bahwa proses tasammuh itu berlangsung, dalam hal apapun. Karena praktik kasih sayang sesama manusia lebih sulit dari pada proses mempelajari kasih sayang itu sendiri. Islam rahmatan lil’alamin adalah Islam yang menebar kasih sayang sesama manusia terlepas agamanya apa. Bisa jadi, semangat kasih sayang inilah yang juga oleh Gus Dur disebarluaskan melalui semangat humanisme dan pluralismenya. Bahwa di Bali, beliau juga diabadikan menjadi nama sebuah rumah suci di salah satu Ashram Gandhi Puri Sevagram, Kabupaten Klungkung, Bali dengan sebutan “Gus Dur Bhavan”.
Oleh sebab itu yang penulis lihat di MWC NU Sumawe adalah semangat saling menghargai perbedaan itu. Perihal kesahihan Arca Dewi Parwati tersebut perlu adanya penelitian lebih lanjut. Hal ini juga menjadi pesan Prof Dwi bahwa untuk menindaklanjuti dengan pencarian bagian-bagian arca atau puing-puing bata dan lain sebagainya di sungai di mana arca itu ditemukan dulu. Karena jarang sekali di wilayah Malang Selatan ditemukan arca atau bangungan-bangunan bersejarah berupa candi atau sisa kerajaan kuno.
