Salah satu dari sekian banyaknya tantangan seorang guru adalah memfilter limpahan informasi, wawasan, dan pengetahuan yang jika diterima semuanya justru akan menghambat proses transfer ilmu dari pendidik kepada peserta didik.
Dengan adanya akses mudah ke sumber daya digital dan konten pembelajaran online, guru mendapat stimulan tambahan dalam menyaring, mengevaluasi, merumuskan materi, metode serta teknik pembelajaran, dan menggunakan informasi secara efektif untuk mendukung proses pembelajaran siswa.

Alih-alih melihat AI sebagai ancaman, kita dapat melihatnya sebagai mitra dalam mencapai tujuan kemanusiaan. Dalam bidang kesehatan, AI dapat membantu dokter dan perawat memberikan perawatan yang lebih baik. Dalam pendidikan, AI dapat membantu guru memberikan pembelajaran yang lebih efektif. Dalam pekerjaan, AI dapat mengambil alih tugas-tugas rutin, memungkinkan manusia untuk fokus pada pekerjaan yang lebih kreatif dan bermakna.
Seperti yang dikemukakan oleh Brynjolfsson dan McAfee (2014), AI dapat menjadi kekuatan yang memberdayakan manusia, bukan menggantikannya. Dengan mengadopsi pandangan ini, kita dapat membangun hubungan yang lebih harmonis antara AI dan kemanusiaan.
Kekhawatiran dan Jalan Keluar
Meskipun memiliki banyak potensi positif, AI juga menimbulkan berbagai tantangan dan kekhawatiran. Salah satu isu utama adalah masalah etika dan privasi. AI yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data pribadi dapat disalahgunakan jika tidak ada regulasi yang ketat. Penelitian oleh Binns (2018) menggarisbawahi perlunya kebijakan privasi yang kuat untuk melindungi data pribadi dari penyalahgunaan.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa AI dapat menggantikan pekerjaan manusia, menyebabkan pengangguran massal. Sebuah laporan dari McKinsey Global Institute (2017) memperkirakan bahwa hingga 375 juta pekerja di seluruh dunia mungkin perlu beralih ke jenis pekerjaan baru pada tahun 2030 karena otomatisasi dan AI. Ini menunjukkan perlunya program pelatihan ulang dan pendidikan yang dapat membantu pekerja beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Pendidikan memainkan peran kunci dalam menciptakan hubungan harmonis antara AI dan kemanusiaan. Dengan memahami cara kerja AI dan potensinya, masyarakat dapat lebih siap untuk menghadapi perubahan yang ditimbulkan oleh teknologi ini. Program pendidikan yang mencakup literasi digital dan pemahaman dasar tentang AI harus diperkenalkan sejak dini di sekolah-sekolah. Karena pada akhrinya, mau tidak mau, semakin dewasa kita, teknologi akan menjadi kebutuhan yang menunjang keseharian manusia.
Menurut sebuah studi oleh Holmes et al. (2019), memperkenalkan konsep AI dalam kurikulum pendidikan dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan kritis yang diperlukan untuk berinteraksi dengan teknologi di masa depan. Ini akan membantu generasi mendatang untuk lebih siap menghadapi tantangan yang dibawa oleh AI dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan.
Mungkin sebelum kita memperdalami AI secara mendetail, yang kita tahunya hanyalah seputar kemudahan dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah mnaupun pekerjaan. Akan tetapi, bisa jadi setelah kita belajar tentang AI berikut potensi-potensi positifnya, ternyata AI itu meawarkan kemudahan yang lebih dari apa yang kita pikirkan sebelumnya.
