Arwah Aktivis

Sekarang, pak tua itu bersama putri bungsunya tinggal di Magelang. Untung saja, dia masih memiliki putri yang bisa menemani dan merawatnya di waktu sepi dengan umurnya yang semakin senja.

Setelah membersihkan perpustakaan, terdengar suara tangisan dari kamar saya. Balita kami terbangun. Saya bergegas menuju kamar dan segera mengganti popoknya. Setelah saya berikan ASI, sejenak ia terlihat menikmati ASI yang saya sodorkan. Namun tak lama kemudian, ia tak mau lagi. Ia terus menangis. Saya cek suhu badannya dengan menempelkan telapak tangan ke keningnya, ternyata normal. Sudah berbagai cara saya menenangkannya, namun nihil. Bayi kami tetap saja menangis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saya panik dan langsung menelepon suami saya agar cepat-cepat pulang yang mungkin saja belum sampai ke kantornya. Setelah beberapa waktu, suami saya tiba di rumah dan segera membawa putri kami ke rumah sakit. Saya ikut mendampingi. Di dalam perjalanan, bayi kami berhenti menangis. Namun suami saya tetap membawanya ke rumah sakit untuk memastikan kesehatannya.

Setelah menyelesaikan administrasi, kami segera masuk ke ruangan dokter spesialis bayi untuk memeriksakan bayi kami. Kata dokter, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dokter hanya memberikan vitamin untuk bayi kami.

Sesampainya di rumah, bayi kami kembali menangis tanpa sebab. Kami mengira ada hal yang ganjil di rumah ini. Kami meyakini, bahwa rumah ini memang ada makhluk tak kasat mata yang menunggui. Saya sendiri merasakan hawa panas saat berada di rumah ini. Terkadang secara tiba-tiba, bulu kuduk saya berdiri dan seperti ada sekelebat bayangan di belakang saya. Saya percaya dengan adanya makhluk astral. Dan saya percaya, bahwa balita lebih sensitif dari pada orang dewasa.

Setelah berpikir lama, kami berinisiatif untuk mengungsi sementara di rumah orang tua saya. Soal rumah, biar suami yang menanganinya. Dia mempunyai relasi yang tak sedikit. Mungkin saja dia bisa menemukan referensi untuk menyelesaikan masalah ini.

Setelah semuanya beres, kami kembali ke rumah itu. Berkat usaha suami saya, kami bisa menikmati istirahat dengan tenang dan bayi kami tidak ketakutan lagi. Rupanya, dia memang lelaki yang bisa diandalkan. Dia mengundang keluarga, kerabat dan teman-temannya untuk mujahadah di rumah kami. Dia juga memakai jasa ketering untuk jamuan acara itu.

Suara rebana bertalu-talu mengiringi lantunan selawat nabi yang dibawakan oleh remaja masjid yang ada di desa. “Kenapa dengan rumah ini. Kenapa putrimu tak ketakutan lagi?” tanya saya kepada suami.

“Arwah aktivisnya sudah pergi,” guraunya.

Tinggalkan Balasan