Dalam metode ini, pembelajaran ilmu alat dibagi ke dalam tiga kelompok pembahasan, yaitu Tartib al-Masa’il, Tamyiz al-Masa’il, dan Li Qodri al- Hajat. Dengan pengelompokan baru ini, masalah-masalah atau soal-soal yang sesuai atau ditempatkan pada satu bab khusus. Ini memudahkan atau tidak memberatkan santri yang sedang belajar ilmu alat. Selain itu, melalui metode ini, tiap materi dalam nahwu dan shorof dijelas-ajarkan sesuai dengan kebutuhan, dalam arti diambil poin pentingnya saja. Hal ini dilakukan sebagai upaya mempermudah dan mempercepat santri dalam memahami nahwu dan shorof.
Penyelanggaraan program khusus “Metode Auzan” juga menerapkan sistem kelas pada setiap tingkatannya. Hal ini bertujuan agar kegiatan belajar mengajar dapat terpantau secara maksimal. Ketiga kelas pada program “Metode Auzan” ini meliputi qira’at, tarjamah, dan insya. Setiap kelas menempuh waktu selama satu tahun. Namun, jika terdapat santri yang tidak mampu mencapai target, maka ia harus mengulang kembali pada tahun berikutnya.

Berdasarkan pengalaman selama “Metode Auzan” ini diterapkan, santri dapat lebih mudah dan cepat dalam memahami ilmu nahwu dan shorof. Karena, teori-teori yang disajikan sangat mudah dan praktis, sehingga dalam waktu enam saja bulan santri sudah dapat membaca kitab kuning.
Banyak prestasi yang telah diraih oleh para santri yang mengikuti program ini. Di antaranya, juara lomba Musabaqoh Qiroatul Qutub se-Kabupaten Cirebon dan se-Provinsi Jawa Barat. Kitab yang diikutkan pada setiap lomba pun bervariasi, mulai dari bidang ilmu fikih, nahwu, tauhid, dan sebagainya.
Kini, Metode Auzan semakin dikenal, diminati, dan diadopsi banyak pondok pesantren yang berada di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
