Tapi, mana bisa aku percaya hanya karena melihat gambar tiga ekor kucing. Aku baru percaya semisal ada gambar atau foto ibu yang bermesraan dengan seekor kucing. Atau, foto ibu sedang tidur satu ranjang dengan kecing hitam itu. Atau kalau itu terlalu berat, mungkin foto ibu sedang liburan entah kemana dengan seekor kucing. Kalau itu tidak terpenuhi, demi Tuhan aku tidak akan percaya pada apa yang dikatakan ibu.
“Dulu ibu kerja di warung makan miliknya Cing Along yang bermata sipit itu.”

“Apa hubungannya dengan kucing?”
“Dengar dulu kelanjutannya, bocah goblok!”
Mata ibu mendelik.
“Dulu waktu ibu kerja di warung makan Cing Along kau belum lahir ke dunia, makanya kamu tidak tahu apa-apa, seperti perempuan tua itu. Ibu sering menginap di sana, setiap menginap pula kucing hitam itu mengelus-elus tubuh ibu. Berbulan-bulan seperti itu sampai ibu hamil dan lahir bocah tolol sepertimu.”
“Di mana ibu bisa menggambar wajah kucing yang selalu mengelus tubuh ibu dan dua kucing di sampingnya yang kata ibu adalah saudaraku?”
“Gambaran di dinding itu adalah pemberian kucing hitam saat persetubuhan terkahir ibu dengannya!”
Aku semakin tidak yakin pada perkataan ibu. Aku malah penasaran pada Cing Along dengan matanya yang sipit. Aku yakin Cing Along pasti punya duit banyak, tidak seperti ayah. Dan kucing hitam itu adalah jelamaan dari Cing Along. Sementara gambar di ruang makan rumah ini adalah pemberiannya pada ibu karena sudah bekerja di sana dan sering menginap pula.
“Cing Along, Cing Along, ke mana dia?”
Mata ibu menyala.
Seekor kucing hitam menyelinap dari ruang makan.
ilustrasi: kucing/popo iskandar/mutualart.com
