pagi masih gigil,
ketika sajak ini dibungkam luka
selingkar senyum debur gelombang jiwa
bersayap aksara nyanyian lalang
menabur guguran ombak
di lengkung pelangi yang lindap
tanpa butiran nafiri
seduh seruling gembala
menuai damai, mendaras bait puisi

belumlah luka ini masih,
darahkan darah, dukakan duka
mengayuh bahtera pinta,
pada riak gerimis, Tuhan!
Madura, 30012021.
