“Gus Dur menggunakan humor sebagai kritik dan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Melalui humor, Gus Dur melawan sistem represif Orde Baru dengan cara yang menghibur,” ujar Ngatawi Al Zastrouw, yang juga pernah menjadi orang kepercayaan Gus Dur pada dekade 1990-an.
Berikutnya, dalam orasinya yang bergaya stand up komedi, Inayah banyak mengungkap perjuangan Gus Dur secara satire. Dia mengisahkan, di Era Soeharto ikan-ikan di Indonesia sulit dipancing karena takut buka mulut. “Tapi di era Gus Dur, ikan-ikan juga tetep susah dipancing, karena sulit tutup mulut,” canda Inay disambut tertawa ngakak pengunjung. “Begitulah demokrasi, memang berisik, perlu kesabaran dan kebesaran hati,” lanjutnya.

Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan menjelaskan, haul Gus Dur merupakan momentum penting tahunan untuk mengenang jasa, pemikiran, dan perjuangan Bapak Bangsa serta pejuang kemanusiaan tersebut. Acara ini diisi dengan refleksi nilai-nilai yang diperjuangkan Gus Dur, seperti membela yang lemah, menjaga kebhinekaan, dan pentingnya kepemimpinan yang etis, dengan tema yang berbeda setiap tahunnya.
“Ciri khas Gus Dur yang tak terpisahkan adalah humornya yang cerdas, tajam, dan penuh makna, yang sering ia gunakan sebagai alat komunikasi politik atau cara halus untuk menyindir dan mengkritik institusi atau keadaan sosial, seperti leluconnya tentang ‘tiga polisi jujur (Patung Polisi, Polisi Tidur, dan Pak Hoegeng) atau plesetan-plesetan yang ia gunakan. Itu menunjukkan bahwa humor adalah bagian integral dari sosok dan dakwahnya,” kata Fitra Manan.
