“Pak Polisi harus tahu juga Pak. Patuh pada kiai itu di mana saja. Ittaqulloha haitsuma kunta. Bertakwalah di mana pun kamu berada! Kalau Pak Polisi akan marah melihat pengendara tak memakai helm ketika tidak ada Bapak. Maka kiai saya juga seperti itu Pak. Pak Kiai akan marah ketika melihat santrinya tidak pakai kopyah. Jadi, jangan razia saya karena kepatuhan saya pada kiai, Pak. Tukas Udin percaya diri. Dia pun lolos lagi. Lain waktu Udin kena razia lagi. Dan jawaban-jawaban itu tidak lagi digubris polisi. Mungkin semata barokah yang menyelamatkannya. Dia bilang pada polisi. Bahwa dia tidak punya apa-apa. Sepeda motor itu milik Pak Kiai. Dia ke pasar juga karena disuruh kiai. Udin kemudian menyuruh polisi itu membawa sepedanya. Tapi ternyata polisi itu tak berani menilang sepeda kiai. Udin pun lolos lagi.”
“Bahkan ada seorang khodim yang malah diberi uang oleh polisi gara-gara mengaku santrinya Pak Kiai. Padahal waktu itu dia sudah hampir ditilang.”

“Itu belum seberapa. Ada seorang santri khodim kiai yang kerjaannya di pondok cuma bantu di ndalem. Ngajinya sering ketinggalan dan dia tergolong santri yang tidak pintar. Tapi ketika di rumah diminta jamaahnya untuk mengaji tiba-tiba dia bisa membaca kitab kosong yang padahal dulu sama sekali tidak dimengerti. Jadi, selain ngaji kalian harus cari barokah. Caranya adalah dengan mengabdi, mencari ridho dari guru,” pungkas Ustadz Fadil. Para santri baru begitu termotivasi dengan sesorah ustadz muda itu.
* * *
Suatu pagi Udin berangkat ke kampus untuk ospek. Karena saat mandi di pondok antreannya cukup panjang, Si Udin santri baru itu sampai di kampus telat beberapa menit. Panitia ospek menahan langkahnya di depan gerbang. Mengingat cerita-cerita inspiratif tentang keberkahan seorang santri beberapa saat yang lalu membuat Udin tersenyum. “Saatnya membuktikan barokah nyantri telah tiba,” dia membatin.
“Kenapa telat???” bentak panitia ospek berkumis tiga itu.
“Saya santri Mas. Mandinya antre,” jawab Si Udin lugu.
“Terus?”
“Santri kan banyak barokahnya Mas. Kamu nggak takut menghukumku?” tantang Si Udin.
“Kamu pikir kalau kamu santri boleh telat? Jangan salah gunakan status kesantrianmu itu! Aku juga santri. Pekerjaanku adalah menghukum para santri yang pulang telat ke pondok. Dan aku belum pernah kualat karena menghukum mereka!” sergah panitia ospek kumis tiga lembar berpakaian necis yang ternyata juga seorang santri itu.
Kedua kaki Si Udin langsung gemetar melihat tiga lembar kumis panitia ospek itu bergerak-gerak penuh emosi.
