Dalam buku setebal 344 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Qaf pada 2020 ini, al-Ghazali banyak menceritakan pemimpin masa lalu, mulai dari masa Nabi, khalifah, kekaisaran, dan para raja.
Dahulu, seperti diceritakan dalam beberapa hikayat pada buku ini, banyak pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan dunia dengan cara memperkaya diri dan penguasaan wilayah. Hal itu dilakukan hanya untuk membahagiakan diri sendiri.

Padahal, kebahagiaan yang sejati adalah ketika jabatan yang kita sandang atau emban berorientasi pada rakyat semata. Siapa yang menjalakan kepemimpinan dengan benar maka akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada batasnya (hal.24). Di sinilah letak terpenting pemimpin sebagai khalifah fil ‘ardhi yang dimaksudkan dalam Al-Quran.
Melalui buku ini, al-Ghazali menempatkan isu keadilan dalam posisi penting dan khusus dalam kepemimpinan, karena masalah keadilan mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia. Namun, al-Ghazali juga mengingatkan bahwa kata “keadilan” tidak hanya berlaku pada seorang pemimpin, akan tetapi juga berlaku untuk semua orang, seperti keadilan orang tua pada anak, suami pada istri, guru pada murid, yang dewasa kepada yang muda, bahkan adil kepada diri sendiri.
Meskipun begitu, kitab ini memang menitiberatkan pembahasan soal keadilan pada orang-orang yang memegang jabatan atau kepemimpinan. Sebab, dengan memegang jabatan atau menjadi pemimpin, seseorang sedang mengemban titel sebagai khalifah di bumi atau biasa kita sebut kepanjangan tangan Tuhan.
Dengan posisinya itu, pemimpin yang berlaku adil akan dijamin oleh Tuhan untuk menetap di surga yang dijanjikan. Siapa yang mempraktikkan keadilan, niscaya Allah akan mengantarkan ke surge (hal.115).

One Reply to “Belajar Politik dari Imam al-Ghazali”