Mahabbah artinya cinta. Yaitu cinta Muhammad kepada hidayah, sehingga Allah memberikan apa Muhammad cintai berupa petunjuk atau hidayah, wahyu dari Allah. Kecintaan Muhammad kepada hidayah diaplikasikan dalam bentuk totalitas penghambaan sebagai Nabi dan Rasul. Hal inilah yang kemudian membentuk pribadi agung Muhammad yang pantas untuk diteladani oleh siapa saja.
“Kalau tidak karenamu, Muhammad, maka tidak aku ciptakan dunia dan segala isinya.” (Hadits Qudsi).

Tafsir Ibnu Katsir
Menurut Ibnu Katsir, makna dan maksud ayat di atas adalah situasi di mana Muhammad dalam suatu perjalanan. Dikisahkan bahwa di masa kecil, Muhammad berada dalam suatu perjalanan di malam hari menuju Mekkah. Kisah lainnya menyebutkan bahwa Muhammad dalam suatu perjalanan menuju Syam bersama Abu Thalib, pamannya.
Saat itu, Muhammad mengendarai seekor unta. Di tengah perjalanan, di gelap malam tersebut, datanglah Iblis dengan maksud menyesatkan perjalanan Muhammad. Benar saja, arah perjalanan Muhammad menuju arah yang salah. Tersesat di dalam rute yang tidak benar karena pengaruh Iblis tersebut. Kemudian, Allah mengutus Jibril untuk menunjukkan kembali jalan yang benar. Allah, melalui Malaikat-Nya, memberikan petunjuk (hidayah) kepada Muhammad. Akhirnya, Muhammad pun selamat dari kesesatan perjalanan (dikisahkan oleh Al-Baghawi).
Semoga artikel ini memberikan hikmah dan petunjuk bagi penulis dan kita semua, bahwa sebenarnya Rasul terlepas dan suci dari kesesatan yang mengarah kepada kebatilan. Rasul tidak pernah berbuat sesuatu yang akan menihilkan nilai kerasulan. Muhammad adalah sosok suci dari segala bentuk fitnah dari musuh-musuhnya, termasuk fitnah bahwa Muhammad pernah berperilaku sesat.
