Berkurban Atas Nama Cinta

Dengan kata lain, cinta ibu kepada anak haruslah menunjang cinta si ibu kepada Allah. Itulah yang dilakukan Siti Hajar. Cinta ayah kepada anak juga harus demikian. Itu yang dicontohkan Nabi Ibrahim. Takut pada kematian wajib menebalkan cinta pada Allah. Itu yang diperagakan Nabi Ismail. Itulah keluarga rabbani.

Bukan malah sebaliknya, cinta pada keluarga jadi hijab yang makin menjauhkan pada Allah. Jika ini yang terjadi, atas nama cinta pada anak, orang tua akan tega melakukan apa saja, walau pun hal demikian tidak disukai Allah

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mencintai Manusia

Sulit bagi kita menafsiri mimpi yang mengandung pesan bahwa itu adalah perintah dari Allah untuk menyembelih anak kita sendiri. Pun juga bagi Nabi Ibrahim. Sebab itu, dia perlu tiga tahap mimpi untuk memastikan mimpi itu memang demikian maksudnya, dari keraguan, pengetahuan, dan pelaksanaan.

Kalau masih ragu, berarti informasi yang diterima setengah diterima dan ditolak. Kalau sudah masuk pada level pengetahun, artinya tahu bahwa itu memang perintah Allah, informasi itu akan diterima sepenuhnya. Namun belum tentu dilaksanakan. Baru pada tahap ketiga, pengetahuan masuk pada ranah keyakinan yang menggerakan tindakan.

Keyakinan Nabi Ibrahim sudah mantap, tapi dia tidak otoriter. Dia bermusyawarah dulu dengan keluarganya. Keluarganya pun setuju. Memiliki kemantapan hati yang sama. Menurut Prof Quraish Shihab, ini menunjukkan keberhasilan Nabi Ibrahin menempa kepribadiannya sehingga menjadi pribadi yang mulia dan keberhasilannya pula menanamkan hal serupa pada keluarganya.

Tinggalkan Balasan