Berlomba dalam Kebisingan

Sejak dulu, manusia selalu punya kecenderungan untuk ikut berbicara tentang sesuatu yang ramai diperbincangkan. Semakin banyak orang membicarakan satu hal, semakin besar pula dorongan untuk ikut menanggapi, meskipun sering kali tanpa benar-benar memahami duduk perkaranya. Mungkin ini bagian dari naluri sosial: keinginan untuk tidak tertinggal, untuk terlihat tahu, atau sekadar agar suaranya dianggap ada.

Dulu, ruang bagi komentar semacam ini terbatas. Ia berhenti di warung kopi, di beranda rumah, atau di sela obrolan selepas salat berjamaah. Namun kini, dengan kehadiran media sosial, batas itu hilang. Satu kalimat bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia hanya dengan satu klik. Setiap orang kini bisa menjadi “ahli”, bisa menasihati, mengomentari, bahkan menghakimi, meski tidak memiliki pengetahuan yang cukup.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masalahnya muncul ketika komentar-komentar tanpa dasar itu bertemu dengan ruang publik yang juga bising. Orang yang tidak tahu berbicara seolah tahu, dan yang sama tidak tahunya ikut menanggapi. Lalu lahirlah debat panjang tanpa arah, perbincangan tanpa substansi, dan keyakinan yang dibangun di atas kesalahpahaman. Di dunia digital, kebodohan tidak lagi diam di tempat; ia berkelana, diperkuat oleh algoritma, disebarkan ulang oleh orang-orang yang sama tidak mengerti.

Tinggalkan Balasan