Pancasila bukan hanya sekadar teks pasif dalam sejarah, tetapi juga ideologi pemersatu dan cermin dari keberagaman bangsa. Sebagaimana digagas oleh Bung Karno dan diangkat dalam pengantar buku Ngatawi Al-Zastrouw, sila-sila Pancasila merupakan “jiwa” atau kepribadian bangsa Indonesia karena digali dari dalam diri bangsa itu sendiri. Oleh sebab itu, dalam keseharian, pengamalan nilai-nilai Pancasila—mulai dari keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi kemanusiaan, hingga menjaga persatuan—menjadi fondasi utama dalam membangun harmoni sosial.
Pondok Pesantren, sebagai salah satu pilar keagamaan, pendidikan dan kebudayaan, telah lama menjadi lahan subur bagi pengamalan nilai-nilai Pancasila. Di pesantren, nilai-nilai ketuhanan, kebersamaan, dan toleransi diajarkan dan dilestarikan melalui tradisi keilmuan dan kehidupan komunal. Santri diajarkan untuk mencintai tanah air, atau Hubbul Wathon, sebuah gagasan yang diserukan oleh pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dan Pahlawan Nasional, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, saat Indonesia masih berada di bawah jajahan Belanda dan Jepang. Bagi kalangan santri, Hubbul Wathon adalah bagian tak terpisahkan dari iman, yang menemukan resonansi kuat dengan sila-sila Pancasila. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa menjadi Muslim yang baik berarti menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Refleksi mendalam tentang Pancasila juga dapat ditemukan dalam buku Menggali Api Pancasila. Dalam karyanya ini, Ngatawi Al-Zastrouw mengajak kita untuk melihat Pancasila bukan sebagai dogma mati, melainkan sebagai api yang terus menyala, memberikan inspirasi dan energi bagi pembangunan bangsa.

Subhanallah, semoga saya mampu mengikuti kegiatan ini sampai tuntas,,,🙏🙏🙏