Selanjutnya, Imam Al-Ghazali dalam kitab ini menjelaskan tentang apa saja yang menyangkut perkara sunah tersebut, mulai dari perkara yang ringan sampai yang berat. Karena sejatinya, tidak ada perkara yang berat jika memulai dari yang ringan.
Kurang lebih ada enam belas perkara sunah yang semestinya ditekuni oleh seorang hamba, di antaranya adalah adab bangun tidur, adab masuk toilet, adab berwudhu, adab mandi, adab bertayamum, adab masuk dan keluar masjid, adab ketika terbit fajar, adab bersiap untuk salat, adab tidur, adab salat, adab menjadi imam dan makmum, adab salat Jumat, adab puasa, menjaga diri dari maksiat hati dan adab connecting (tersambung) secara spiritual dengan Allah, dan juga menjaga hubungan baik dengan sesama makhluk.

Yang istimewa dari kitab ini, dalam bab maksiat hati, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tiga perkara yang paling merusak batin seseorang, yaitu hasud (dengki), riya (ingin dipuji), dan ujub (berbangga diri). Tiga perkara ini dianggap sulit karena manusia paling sering dirasuki sifat-sifat tercela tersebut. Dan, meskipun manusia mengetahui bahwa perkara ini tidak terpuji, nyatanya masih banyak yang lalai karena kesibukannya mengurusi perkara yang bersifat material.
Mengapa Al-Ghazali hanya menyebutkan tiga sifat tercela ini, padahal masih banyak lagi sifat-sifat tercela lainnya? Di sini Imam Al-Ghazali mempunyai alasan kuat. Sebab, tiga sifat tersebut mempunyai korelasi kuat dengan sifat-sifat tercela lainnya. Misalnya, sifat hasud (dengki), ia mempunyai korelasi denga sifat kikir. Lalu Imam Al-Ghazali mengutip sebuah hadis yang artinya, “Sifat dengki memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Mengenai sifat riya (ingin dipuji manusia), Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ia merupakan sifat yang menafikan keikhlasan. Sedangkan, amal yang tanpa keikhlasan tidak akan bernilai di sisi Allah SWT. Kemudian yang ketiga sifat ujub (pamer), ia mempunyai korelasi dengan sifat takabur (sombong) dan sifat-sifat tercela lainnya.

Ajip