Ada pemandangan tak biasa di Pondok Pesantren Al-Falak Bogor, Jawa Barat, pada Selasa (25/2/2025) kemarin. Pesantren yang juga dikenal sebagai Pondok Pagentongan itu kedatangan tamu istimewa. Meraka adalah 20 siswa dari SMP 2 Depok. Rupanya, kehadiran mereka untuk menjadi santri dadakan selama sehari. Di pesantren di tertua di Bogor itu, mereka mempelajari beberapa pengetahuan Islam, seperti salat, puasa, dan zakat.
Kedatangan para siswa ini disambut Kiai Achmad Ubaidillah Albantany yang merupakan keturunan kelima dari pendiri Pesantren Al-Falak, KH Tubagus Muhammad Falak atau yang dikenal juga dengan nama Abah Falak Pagentongan.

Adapn, 20 siswa yang menjadi santri dadakan ini adalah Khanza Shahira, Nayyara Azkiya Sonika, Kameko Theona Aurelia, Kumiko Theona Aurelia, Althafunnisa Nayyara Giantari, Azmaera Puteri Anindita, Baiza Musthafa, Abhinaya Risdyandra Bangun, Indonesiana A.W., Adelia Ghina Hanna N. (P), Nesya Tri Rahma, Khanaya Kireinahikari Reksa, Gendis Kira Mazaya, Rasti, Salma Nadifa Azmi, Queentania Sanny P., Razkiana Salsabilla, Fauziah Aida Utami, Mutiara Syakila Rinjani, Assyifa Dwi Rizky, Haiqkhal Juan Fergerina, dan Aura Nova.
Aktivitas dimulai pukul 09.00 saat para siswa SMP Negeri 2 Depok tiba di Pondok Pagentongan. Kedatangan mereka disambut sejumlah guru dan santri di pesantren tersebut, termasuk Kiai Achmad Ubaidillah Albantany atau yang biasa disapa Kang Ubaid. Acara pertama yang diikuti oleh para siswa adalah kelas pembelajaran ilmu fikih. Yang menarik, mereka juga belajar di kelas dan berbaur dengan para santri.
Tema utama yang dibahas pada pagi itu adalah Rukshah, kemudahan dari Allah SWT dalam beribadah. Tujuan pembelajaran kali ini adalah agar peserta didik dapat mengidentifikasi berbagai Rukshah dalam salat, puasa, zakat, haji, dan hikmah di balik Rukhsah.
Selain belajar di kelas, siswa SMP Negeri 2 dan juga santri Pesantren Al-Falak melakukan ibadah salat bersama-sama atau berjamaah. Juga mengaji bersama. Selepas melakukan ibadah, mereka juga diajak keliling ke seluruh lokasi bangunan Pesantren Al-Falak untuk melihat beragam kegiatan belajar dan mengajar di sana. Tak ketinggalan, mereka juga diajak makan bersama dengan menu ala pesantren. Dari kegiatan tersebut, para siswa bisa mendapat pengalaman baru dan merasakan kemandirian yang lekat dengan kehidupan para santri.
Selesai makan, para siswa beserta santri Pesantren Al-Falak berjalan menuju makam Abah Falak sekaligus berziarah kubur. Makam Abah Falak selama ini juga dikenal sebagai salah satu warisan sejarah Kota Bogor. Di sini, peziarah selain dapat berkirim doa juga bisa melihat rumah tempat Abah Falak dahulu tinggal. Rumah tersebut dahulu sering digunakan sebagai tempat berkumpul para tokoh-tokoh pendiri Republik Indonesia untuk bersiasat melawan penjajahan Belanda.
KH Tubagus Muhammad Falak atau Abah Falak dilahirkan pada 1842 di Sabi, Pandeglang, Banten. Sejak kecil Abah Falak mendapatkan pendidikan agama Islam dari orang tuanya. Ayahnya, KH Tubagus Abbas, adalah kiai pemimpin pesantren yang hidup dari hasil bertani dan sangat aktif dalam melakukan kegiatan dakwah dan syiar Islam di daerah Pandeglang dan sekitarnya bersama isterinya, Ratu Quraisyn. Secara garis kuturunan, KH Tubagus Muhammad Falak tidak saja berasal dari keluarga pesantren, tetapi juga dari keluarga Kesultanan Banten melalui ayahnya, KH Tubagus Abbas.
Silsilah keturunan Abah Falak sarnpai kepada salah seorang dari sembilan wali yang memiliki putra bernama Sultan Maulana Hasanuddin Banten, yaitu Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Kebangsawanan Abah Falak diperkuat pula oleh garis keturunan dari sang ibu, yaitu Ratu Quraisyn yang masih merupakan keturunan Sultan Banten.
Abah Falak bermukim di Mekkah selama kurang lebih 21 tahun lamanya pada periode pertama. Di sana, Abah Falak mengajar berbagai ilmu agama Islam. Abah Falak kembali ke Nusantara pada tahun 1878. Setelah kepulangannya ke Nusantara, Abah Falak aktif dalam pergerakan kebangsaan melawan kolonialisme sejak pemberontakan Petani Banten 1888, menjadi pemimpin rohani Laskar Hizbullah di pusat pelatihan Hizbullah di Cibarusa, dan berinteraksi dengan tokoh tokoh pergerakan nasional seperti Ir Soekarno, HOS Cokroaminoto, dan lain-lain.
Pada tahun 1892, Abah Falak kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan kembali memperdalam ilmu di sana hingga menjelang awaI abad ke-20 dan mengalami masa kebersamaan dalam kurun waktu yang sama dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan. Kedua tokoh agama ini merupakan pendiri dua organisasi besar di Nusantara, yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. KH Tubagus Muhammad Falak wafat pada waktu subuh pukul 04.15 hari Rabu tanggal 19 Juli 1972 atau tanggal 8 Djumadil Akhir 1392 H di usianya yang ke-130 tahun di Pagentongan, Bogor.
Para siswa SMP Negeri 2 Depok merasa beruntung mendapat kesempatan belajar menjadi santri dalam satu hari. Karena, selain mendapat tambahan ilmu pengetahuan agama Islam, mereka juga berkesempatan mendengarkan kisah perjuangan serta teladan dari sosok kiai pejuang bernama KH Tubagus Muhammad Falak.
Kang Ubaid sang cicit Abah Falak, mengapresiasi kunjungan para siswa SMP Negeri 2 Depok, “Saya kagum dengan semangat adik-adik dari SMP Negeri 2 Depok ini yang bisa cepat berbaur dengan teman-teman santri seusia mereka di sini sambil belajar sejarah tentang perjuangan pesantren ini di masa perjuangan menuju Indonesia Merdeka,” ucap Kang Ubaid di depan seluruh siswa dan santri.
“Besar harapan saya agar di kemudian hari para siswa dan santri bisa melahirkan karya kolaborasi bersama, misalnya seperti di bidang sastra. Siapa tahu bisa menulis puisi dan diterbitkan bersama-sama,” tambah Kang Ubaid penuh semangat yang disambut oleh para siswa dan santri dengan gembira.