Dua organisasi besar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang menerapkan paham damai, moderat, toleran, dan terbuka, telah berjuang keras untuk menentang terorisme dan radikalisme yang destruktif. Namun, tentu saja, upaya mereka tidak akan pernah efektif selama pemerintah tidak punya kebijakan dan strategi untuk menghadapi sebagian kelompok muslim yang destruktif.
Dengan sumber daya dan dana yang bisa dibilang terbatas, NU dan Muhammadiyah akan meneruskan perjuangan untuk membendung terorisme di Indonesia. Mereka peduli dengan adanya fakta bahwa terorisme akan menjadikan kaum Islamofobia semakin berpandangan buruk dan memperoleh gambaran seolah aksi terorisme berasa dari Islam (hlm. 19). Dengan demikian, bisa diartikan Islam di Indonesia adalah moderat dan memiliki karakteristik terbuka untuk memimpin perubahan bagi seluruh muslim di dunia. Namun, semua itu merupakan tantangan besar yang harus dilalui.

Di halaman berikutnya, dalam tulisan yang berjudul Bom Bunuh Diri, ia mengutuk keras aksi bom bunuh diri. Bagi Buya Syafii, bom bunuh diri sambil membunuh orang lain yang belum tentu bersalah adalah suatu kepiluan kemanusiaan yang sangat melukai nurani kita. Terakhir ini yang banyak melakukan drama maut itu adalah mereka yang mengaku sebagai pemeluk Islam, sebagian dengan alasan teologis. Jihad ini berlaku di Palestina, Irak, Afghanistan, Lebanon, Chechnya untuk melawan penjajahan Israel, Amerika Serikat, dan Rusia. Sementara, di Indonesia, bom bunuh diri itu jelas berdasarkan konsep teologi yang sangat kacau, sebab tidak ada alasan rasional sama sekali di belakangnya (hlm. 45).
Dari berbagai sebab aksi bunuh diri itu, terdapat kesamaan penyebab utama, yakni frustasi, marah, dan putus asa dalam menghadapi realitas yang dinilai semakin kejam dan tidak teratasi. “Daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah,” begitu kata peribahasa.
Sebab itu, ia lalu mengimbau, agar agama jangan dibawa-bawa ke gelanggang pertarungan yang pada hakikatnya lebih bercorak duniawi. Bahwa Barat khususnya Amerika Serikat telah semakin kurang ajar dengan politik neoimperalismenya. Tidak seorang pun yang meragukan, kecuali imperalis itu sendiri.
Selain itu, masih banyak lagi pembahasan-pembahasan menarik dalam buku ini, terutama terkait dengan tema kebangsaan dan keagamaan yang tetap hangat untuk diperbincangkan. Namun, sebagai kata penutup dari ulasan ini, marilah kita tundukkan kepala kita sembari pejamkan mata sebentar, kita kirim surah al-Fatihah untuk Buya Syafii Maarif yang telah berpulang ke rahmatullah pada Jumat, 27 Mei 2022 kemarin. Al-Fatihah….
Buya Syafii telah wafat. Kami menyampaikan belasungkawa yang sangat dalam dan dalam sekali. Semoga surga sebagai tempat kembalinya. Aamiin.
