Catatan dari Workshop Penulisan di Tebuireng

Catatan yang kedua berkaitan dengan pemilihan tema/topik/sudut pandang. Pada umumnya, tema atau topik suatu tulisan di antaranya haruslah aktual, relevan, menarik, dan penting bagi dan di mata publik. Atau, setidaknya ada tawaran sudut pandang baru dari tema atau topik yang sudah berlalu. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari 37 karya peserta workshop yang memenuhi kriteria tersebut. Ini memang menjadi tantangan bagi penulis pemula. Karena itu, setiap penulis memang harus banyak-banyak “berpiknik” literasi.

Catatan ketiga harus menjadi perhatian serius. Berdasarkan pengalaman pengelolaan laman www.duniasantri.co selama enam tahun ini, masalah utama dalam penulisan dari kalangan santri adalah lemahnya data. Kebanyakan tulisan tidak didukung data yang cukup atau kuat atau setidaknya pengamatan terhadap fenomena yang terjadi. Bahkan, data elementer pun seringkali terabaikan. Misalnya, ketika ada tulisan yang mengangkat peristiwa balita mati diserang cacing. Tempat kejadiannya hanya ditulis “Sukabumi”. Tanpa disebutkan wilayah administratifnya, kota atau kabupaten, juga nama provinsinya. Ini sepele, tapi bisa berakibat fatal. Karena tempat yang diberi nama Sukabumi banyak. Tanpa dukungan data atau pengamatan atas fenomena yang cukup, tulisan kita tak memiliki pijakan kuat. Karena itu, penting bagi setiap penulis untuk membiasakan diri bergelut dengan data, teliti mengamati fenomena.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Salah satu caranya, tiap mengangkat suatu isu atau topik, kita harus melakukan riset, meskipun dengan cara sederhana, untuk menemukan datanya yang akurat atau memadai, atau melakukan pengamatan atas fenomenanya. Dari data yang tersedia itulah, atau fenomena yang teramati, kita kemudian bisa melakukan analisa, tentu saja dengan teori yang relevan. Dengan begitu, tulisan kita akan mampu memberikan “sesuatu”.

Itulah beberapa catatan yang bersifat umum untuk membuat karya tulis yang lebih baik lagi. Selalu mencoba dan terus mencoba menjadi kunci penting, yang dalam bahasa santri istikamah. Jangan sekali menulis hasilnya buruk lalu frustrasi. Jangan seperti potongan sajaknya Chairil Anwar “sekali berarti sesudah itu mati”.

Tinggalkan Balasan