Misalnya, dalam mitologi Jawa, gamelan merupakan hasil karya Sang Hyang Guru. Penciptaan gamelan dilakukan di Gunung Mahendra di Medangkamulan (Gunung Lawu) pada era Saka. Pertama diciptakan satu gong untuk memanggil para dewa, kemudian berkembang menjadi seperangkat gamelan.
Dalam kepercayaan umat Hindu, gamelan merupakan salah satu unsur dari Panca Swara. Bunyi gamelan dalam ritual keagamaan Hindu diyakini dapat menghadirkan arwah para dewa dan menjadi media utuk mengantarkan manusia mencapai moksa. Sebagaimana disabdakan oleh Hyang Bagawan Naradha kepada seluruh umat maanusia, bahwa untuk mencapai moksartan jagadnata ya caiti dharwa dapat dilakukan melalui seni bunyi-bunyian yang bersusmber dari gamelan (Wayan Sueca). Dengan demikian, gamelan memiliki fungsi dan peran penting dalam agama Hindu. Ia tidak sekadar alat musik, tetapi menjadi bagian dari instrumen peribadatan.

Peran dan fungsi gamelan dalam agama Hindu-Budha ini diadopsi oleh Wali Songo dalam berdakwah. Dalam konsteks Islam, Wali Songo mentransformasikan makna, ajaran, dan nilai-nilai yang ada dalam gamelan dengan mempertahankan fungsinya. Artinya, Wali Songo tetap memperthaankan fungsi gamelan sebagai sarana mengembangkan dan menanamkan nilai-nilai dan ajaran agama dengan memberikan tafsir baru yang bernuansa Islam. Di sini terjadi transformasi nilai dan ajaran dari Hindu-Budha ke Islam.
Hal ini terlihat pada pemaknaan terhadap berbagai unsur yang ada dalam gamelan. Misalnya, “gong” dimaknai sebagai “Yang Maha Agung,” yaitu Allah Swt. “Bonang” yang berasal dari kata “babon” dan “menang” yang berati kemenangan sejati adalah ketika seseorang dapat mengalahkan nafsunya. “Penerus”, yang berarti orang yang meneruskan dan dimaknai ajaran dan dakwah Islam harus disampaikan secara terus-menerus oleh generasi berikutnya. “Saron”, berarti seru (lantang), maknanya dakwah Islam harus dilakukan dengan suara lantang dan tekun. Dan sebagainya.
Selain memberikan makna terhadap jenis-jenis alat musik gamelan, para wali di masa itu juga memberikan penafsiran terhadap bunyi gamelan. Misalnya, bunyi “ning” yang berarti “wening” atau “hening” tafsinrnya manusia harus selalu hening agar dapat mendengarkan suara hatinya, sehingga tidak hanyut dalam realitas dunia. “Nang” yang berarti “menang”, orang yang dapat “ning” akan memperoleh kemenangan. “Nung” berarti “ndunung” maknanya dalam ‘nung” sejati akan mampu menangkap cahaya suci ilahi. “Gung” yang berarti Allah yang Maha Agung.
Secara keseluruhan bunyi gamelan dimaknai, siapa saja yang mampu menjaga diri tetap dalam suasana hening dia akan mampu menangkap caha ilahi dan tampil sebagai pemenang saat menghadap Ilahi.
Dari paparan ini jelas terlihat bahwa alat musik itu tidak memiliki agama. Alat musuk apa saja dan berasal dari mana saja bisa dijadikan sebagai sarana untuk menanamkan ajaran agama dan mengekspresikan keindahan agama. Dengan demikian, alat musik kolintang yang selama ini identik dengan umat Nasrani Minahasa, dapat digunakan oleh siapa pun dan pemeluk agama apa pun untuk menyampaiakan pesan kebaikan dan mengekspresikan keindahan dari setiap agama.
Setelah mendapat penjelasan panajang lebar dari penulis, Bu Nany langsung berkoordinasi dengan Ibu Peny Marsetio sebagai Ketua PINKAN Indonesia. Panitia menjadi semakin mantap melangkah untuk menyelenggarakan event lomba kolintang berselawat. Sehingga, akhirnya lomba ini dapat terselenggara secara sukses, karena berhasil merajut keberagaman Nusantara melalui seni kolintang.
