Catatan Ramadan: Meneguhkan Spiritualitas Kemanusiaan

Lebih lanjut, dalam ibadah puasa ada tiga hal yang perlu untuk terus diperhatikan secara serius: Pertama, mampu mengendalikan anggota tutuh. Tubuh kita bukan hanya dicegah untuk tidak diisi dengan makan dan minum saja, tetapi juga tidak menyakiti orang lain, tidak menjadikan individu atau kelompok lain sebagai objek yang harus dijarah habis-habisan. Pengendalian ini merupakan kegiatan yang mencoba untuk melakukan sesuatu yang tampak di luar kita dan dirasakan secara nyata setiap hari.

Kedua, bisa mengelola akal dan pikir, berangkat dari pemahaman bahwa struktur pengetahuan manusia seperti piramida, semakin ke atas akan tambah mengerucut; mayoritas, (menerima keagamaan dengan tekstualitas), berakal (mengelola akal pikiran, akal yang mengendalikan anggota tubuh kita), dan mengelola hati (tingkatan sufistik) berbicara pengalaman diri. Akal harus berfungsi karena dari sini akan melahirkan sebuah tindakan yang amat besar pengaruhnya terhadap relasi manusia dengan Tuhan, manusia, dan alam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketiga, mampu mengelola hati. Kita harus punya sifat-sifat seperti Tuhan. Seperti kasih sayang, di mana Tuhan mampunyai sifat penyayang terhadap makhluknya. Tanpa memandang agama, suku, dan bahasa. Karena kita tahu, bahwa Tuhan dengan sengaja menciptakan manusia berbeda-beda untuk saling kenal satu sama lain, bukan hanya untuk mengenal, melainkan untuk saling berbagi, menghormati, dan mencintai di atas perbedaan tersebut.
Pada dasarnya ibadah puasa adalah proses menjadi manusia spiritual untuk mencintai kemanusiaan.

Tanpa kemanusiaan ibadah puasa hanya menjadi ritual yang kosong, gersang, dan tidak mempunyai roh apa pun. Dengan demikian, tujuan puasa ialah bagaimana bisa mewujudkan cita-cita agama, yaitu etika dan moralitas kemanusiaan. Bukan hanya dimensi individual, tetapi perlu hadirnya dimensi sosial yang perlu diperbaiki dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan